Lihat ke Halaman Asli

Yudel Neno

Penenun Huruf

Jefri Ndun: Kesadaran "Ecosophy" Pintu Pertobatan Ekologis

Diperbarui: 7 Desember 2017   23:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Manusia adalah makhluk dinamis yang mengalami perubahan dari saat ke saat; perubahan cara berpikir, bertindak, pola hidup dan lain-lain. Perubahan ini didorong oleh pontensi asali manusia (cipta, rasa dan karsa), kebutuhan, keinginan, keadaan sosial budaya. Pada zaman ini manusia telah  memasuki peradaban baru oleh karena suatu perubahan yang signifikan. Peradaban ini ditandai oleh perubahan dalam aneka kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi. Semuanya ini dari hakikatnya bertujuan baik sebagai hasil kreatifititas manusia dan juga untuk kepentingan manusia hidup manusia. 

Namun tak dapat disangkal, bahwa fakta kemajuan dan perkembangan ini pun menyeret  manusia jatuh dalam aneka degradasi nilai yang sifatnya destruktif. Manusia mengalami kemerosotan dalam moral, iman dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya, baik dalam hubungannya dengan sesama, alam sekitar dan Tuhan sendiri. Charles Taylor pernah mengatakan bahwa manusia zaman sekarang mengalami suatu krisis oleh karena kemajuan cara berpikir yang terejawantahkan dalam kemajuan teknologi. Manusia yang terpukau dengan semuanya itu tetapi pada saat yang sama merasa jenuh. Manusia menciptakan aneka perkembangan teknologi tetapi manusia juga tenggelam dalam dunia buatannya sendiri.

Salah satu korban kemajuan dan  perkembangan dalam zaman ini sebagaimana sudah disinggung di atas adalah alam semesta. Alam semesta yang sejak penciptaan dilihat oleh Allah sebagai "baik adanya" dan diberikan kepada manusia untuk diolah berdasarkan kemampuan manusia sungguh telah menangis oleh karena ulah manusia, walaupun perlu diakui pula bahwa tidak semua kerusakan alam diakibatkan oleh manusia. 

Paus Paulus VI dalam Ensikliknya Pacem in Terris menulis: "karena eksploitasi yang sembarangan, manusia mengambil resiko merusak alam dan pada gilirannya menjadi korban degradasi ini". Ia menilai bahwa kemajuan ilmiah yang sangat luar biasa, pertumbuhan ekonomi yang sangat mencengangkan tidak disertai dengan perkembangan sosial dan moral yang baik akan merusak manusia sendiri. Demikian pula Paus Benediktus XVI yang mengkritik aneka pertumbuhan yang  tidak mampu menjamin penghormatan kepada lingkungan. Bila adam dan hawa purba telah merusak eden purba, kini alampun dirusak oleh adam dan hawa modern.

Kerusakan alam dan akibat-akibatnya menyata dalam berbagai bentuk. Polusi udara di berbagai tempat oleh asap pabrik mengakibatkan penyakit bagi  manusia. Polusi oleh kebiasaan membuang sampah yang tak teratur sungguh merusak kecantikan alam sekitar. Pemanasan global oleh karena perubahan iklim yang tragis membuat bumi menjadi panas dan tak memberikan rasa nyaman serta mengakibatkan musim yang tak teratur karena mengalami pergeseran-pergeseran yang kontras. 

Penambangan-penambangan yang hanya menguras isinya dan membiarkan tanah terluka tanpa penanaman kembali berimbas pada air tergenang dan berbahaya bagi hewan. Longsor dan banjir menjadi ancaman bagi manusia yang berada di sekitar daerah tambang. Belum lagi sumber-sumber air yang kian terbatas dan mengering. Ini adalah beberapa kasus yang mengglobal dewasa ini. Bila kita menilik ke dalam wilayah kita khususnya, kenyataan-kenyataan ini tak dipungkiri. 

Keadaan Kota Kupang yang makin panas, sampah berserakan di mana-mana apalagi jika ada acara-acara yang melibatkan khalayak ramai, penambangan di beberapa tempat di propinsi kita yang hanya mengutamakan nilai pendapatannya tanpa memperhatikan pelestarian lanjutan dan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang, curah hujan yang tak teratur, tempat-tempat yang dulu kita sebut "pemali" kini dirusak dan tinggal sebuah cerita. 

Sekali lagi, kerusakan atau kehancuran ini lingkungan adalah bukan semata disebabkan oleh ulah manusia tetapi perlu diakui bahwa sejak munculnya roh sekularisasi akibat perkembangan atau revolusi industri di Inggris membuat segalanya berubah drastis. Alam bukan dilihat sebagai mitra tetapi sebagai musuh yang harus dikalahkan, obyek yang dijadikan pemenuhan kebutuhan dan persaingan manusia semata. 
Alam lingkungan terancam karena ulah manusia yang kian rakus, tamak, daya konsumsi tinggi ketimbang daya produktif, kesombongan manusia, struktur dan sistem dalam masyarakat kita yang korup dan instant,  hidup tanpa aturan, penyembahan pada materialisme, hedonisme yang berpuncak pada egoisme diri dan melihat yang lain sebagai lawan yang perlu dieksploitasi demi kepentingan dan keuntungan sendiri. Alam ciptaan yang dari asal muasalnya baik dan berharga hanya dilihat sebagai barang bukan lagi sesuatu. 
Alam yang dalam dirinya mengandung  kebenaran kosmis tersendiri kini dalam bahasa sepinya mengalami pengasingan dan pemerkosaan yang luar biasa oleh manusia. Situasi ini ditulis dengan sangat jelas oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si: "saudara kita ini (bumi) sekarang menjerit karena segala kerusakan yang kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan  menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. 
Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara,  dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin, yang paling ditinggikan dan dilecehkan oleh kita. Bumi kita sebagai ibu pertiwi  kini mengeluh dalam rasa sakit bersalin. Padahal tubuh kita sendiri tersusun dari debu tanah, kita menghirup udara bumi ini dan disegarkan oleh airnya". 
"Manusia tercabut dari akar religiusnya", demikian lagi pendapat Charles Taylor yang menurut hemat saya menjadi akar yang menimbulkan krisis dalam diri manusia sehingga alam lingkunganpun menjadi korban manusia. Karena ketercabutan manusia dari akar religiusnya, manusia dapat bertindak sebagaimana dikatakan oleh Paus Fransiskus di atas. Manusia salah menggunakan, salah menafsirkan dan gagal merawat harta rohani dan kebajikan-kebajikan ilahi dalam dirinya yakni sikap tanggung jawab, empati, solider yang diberikan oleh Allah untuk menguasi bumi dan isinya sebagai sebuah harta yang lain. 
Manusia mendemontrasikan sikap melawan kebenaran Allah yang terpancar di dalam alam semesta ini dan tidak mengasihi Allah yang terwujud dalam sikap tidak menghargai dan menghormati alam lingkungan. 

Keadaan alam yang menangis dan rusak zaman ini secara tak langsung mengindikasikan bahwa manusia belum menjadi anak-anak merdeka. Manusia masih terjajah oleh dosa-dosa dan kecendrungan satanik lainnya. Manusia belum menjadi anak terang melainkan anak gelap dan  tentu belum mampu mengalami langit baru dan bumi baru sebagai rumah penuh masa depan yang penuh kenyamanan dan kedamaian karena masih menjadi hamba dosa. Kitab Suci mengatakan secara tegas "sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa".

Gereja mengajak kita untuk kembali pada kebenaran dan kasih Allah untuk memiliki keprihatinan dengan lingkungan alam yang menderita ini. Melalui seruan-seruan para Paus, uskup dan seruan pastoral lainnya, Gereja menunjukkan tanggung jawabnya untuk melindungi alam lingkungan ini dengan menumbuhkan sikap ecosophy dalam diri setiap orang. Berikut adalah beberapa seruan dari para Paus dalam ensiklik-ensiklinya untuk dan sekiranya menyadarkan setiap orang bahwa alam lingkungan perlu mendapat perlakuan yang sama dan adil karena merupakan ciptaan Allah yang di dalamnya terkandung harkat dan martabatnya, terkandung kebijaksanaan-kebijaksanaan Allah yang terpancar.

Konstitus Gaudium et Spes

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline