Lihat ke Halaman Asli

Ekonomi Digital, Harapan dan Ancaman

Diperbarui: 9 Mei 2019   11:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Sejak internet berkembang di Indonesia pada akhir tahun 90-an, awal perkembangannya tidak banyak memperlihatkan perubahan menonjol kecuali adanya informasi yang semakin terbuka. 

Model komunikasi melalui internet berbasis komputer berkembang sangat pesat dan menjadi salah satu objek ekonomi yang meningkat secara cepat, khususnya di kota-kota besar sesuai perkembangan jaringan internet. Tetapi berbeda sejak akses internet telah semakin bekembang, khususnya setelah teknologi smartphone mulai populer, internet memberikan perkembangan yang sangat drastis dan signifikan pada banyak sisi.

 Setelah memberikan pengaruh sosial yang sangat besar akibat kemampuan komunikasi dan interaksi,perkembangan digital dan internet kemudian memasuki sektor ekonomi dan usaha. Setelah sejak awal 'mematikan' pengirimian surat secara manual, proses disruptive selanjutnya secara perlahan mulai menyebar pada berbagai sektor. 

Penyebaran pengaruh terjadi secara perlahan dari satu sektor ke sektor yang lain, tetapi proses yang terjadi didalamnya masing-masing menciptakan perubahan yang radikal. Misalnya pada jasa pembelian tiket. Pembelian tiket secara umum di Indonesia sebelumnya jauh dari keteraturan, dimana 'calo' sangat berperan.

 Persoalan ketidakpastian harga, rendahnya pelayanan, jaminan dan indikasi koruptif menjadi 'penyakit kronis' yang tak teratasi dalam jangka waktu lama. 

Teknologi digital akhirnya menjadi alternatif penting dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Aplikasi digital menjadi wajah baru pelayanan publik yang jauh lebih baik 'penyakit kronis' yang selama ini terjadi. Dalam waktu sangat singkat, kios-kios jasa penjualan tiket 'hilang' dan 'calo', begitu pula dengan agen travel mulai digantikan aplikasiaplikasi tersebut. 

Aplikasi penjualan tiket dan agen perjalanan seperti Traveloka akhirnya menjadi satu satu unicorn (aplikasi/startup yang memiliki valuasi diatas 1 miliar US dollar) asal Indonesia. Contoh lain adalah transportasi di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Kemacetan menjadi wajah sehari-sehari di Jakarta dan kota besar lainnya. 

Sementara fasilitas transportasi publik jauh dari memadai. Penggunaan kendaraan roda dua kemudian menjadi salah satu solusi alternatif yang muncul dalam kondisi tersebut. Melalui teknologi digital, fasilitas transportasi alternatif tersebut menjadi sangat populer, khususnya melalui berbagai fasilitas dan kemudahannya. 

Berawal dari pelayanan kendaraan roda dua, kemudian beralih ke roda empat dan akhirnya tidak hanya pada pelayanan antar jemput orang, juga mulai berkembang pada playanan lain seperti pemesanan makanan, layanan membersihkan rumah, dan pelayanan pengiriman barang dan lainnya. 

Aplikasi digital ini tidak hanya menjadi solusi alternatif persoalan transportasi, juga memberikan solusi bagi banyak layanan lintas sektor berbasis transportasi maupun layanan yang bisa memanfaatkan keunggulan melalui transportasi, walaupun tetap masih belum bisa menyelesaikan masalah kemacetan lalulintas. Melampaui persoalan transportasi alternatif, melalui aplikasi ini terjadi penyerapan tenaga kerja yang sangat besar. 

Sekitar 1,5 juta driver telah bergabung dalam beberapa bisnis transportasi online ini dan Gojek telah menjadi salah satu unicorn asal Indonesia lainnya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline