Lihat ke Halaman Asli

Fanni Carmila

Ibu rumahtanga. Mantan wartawan. Wiraswasta. Hobi mengarang

Lorong Kehidupan (2)

Diperbarui: 2 Oktober 2021   06:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

L O R O N G    K E H I D U P A N    (  2  )

Setelah perkenalan pertama kami tuan Deng secara khusus meminta ijin kepada suamiku dan keluarganya agar memperbolehkan putrinya mengunjungiku secara rutin. Untuk belajar melukis dan kaligrafi. Ibu mertuaku bersikap tidak peduli. Namun suamiku sama sekali tidak keberatan.
Terkadang tuan Deng datang sendiri untuk mengantar atau menjemput putrinya. Biasanya diselingi berbincang sambil menikmati acara minum teh bersama suami. Namun bila sibuk ia akan menyuruh pelayan pribadi mengantar dan menunggui Yin-yin.

Kehadiran Yin-yin dan tuan Deng dalam hidup keseharianku mirip secercah cahaya rembulan di tengah kegelapan langit. Muncul sesaat sebelum tertelan kepekatan malam. Perasaanku kutuangkan ke kanvas, "MUNG XIA DE YE LIANG". Rembulan dalam impian.
Lama tuan Deng berdiri di depan kanvas. Mencermati karyaku. Lalu memandangku dengan sorot matanya yang tajam. Secara spontan ia mengambil kuas. Menambahkan "SHI WANG DE DAI YANG" , matahari harapan di bawah goresan penaku. Tersirat hasratnya yang kuat untuk menyemangatiku.
Ia kembali memandangku cukup lama sebelum mengembalikan kuas kepadaku.
"Engkau wanita cantik dan anggun," ujarnya dengan nada tulus. " bangkitlah seperti matahari yang terbit setiap hari. Bagikan sinarmu kepada sekitarmu." Lantas ia menyinggahkan tatapannya kepada putrinya. Hangat menyayangi. "Termasuk bagi kami berdua."
Kurasakan pelupuk mataku memberat oleh air yang tak mampu kucurahkan.
"Akan kuingat terus kata-katamu tuan Deng," kataku membuang muka. Tak kuasa menerima pandangan maupun hujaman kata-katanya.
Aku merasa begitu menderita terbelenggu oleh cinta yang tak mampu kutuntaskan. Kepada Yin-yin dan ayahnya.

Siapa yang menduga cercah harapanku muncul melalui tampilnya sosok lain yang sama sekali tak pernah kuperhitungkan. Siap meruntuhkan keluarga berumur ratusan tahun dan berdiri kokoh menjalani tradisi feodal yang angkuh itu.
Hari itu rumah keluarga Tsang ditimpa kepanikan dan kesibukan luar biasa.
Bupati yang baru berniat mengutus ajudannya berkunjung ke tempat tinggal dan area pemeliharaan serta produksi benang sutra milik keluarga Tsang sudah berjalan hampir empat generasi.
Pada masa itu seorang bupati punya kekuasaan bagai raja kecil. Dialah yang berhak menentukan besaran pajak serta upeti yang harus diserahkan terhadapnya untuk mengisi kas daerah serta kantong pribadi. Korupsi dan pemanfaatan jabatan sudah lazim terjadi. Apalagi sejak terjadinya revolusi yang berhasil menggulingkan kekuasaan kaum bangsawan dan tuan tanah. Beralih  ke tangan kaum buruh dan militer

Suamiku sebagai anak sulung adalah ketua marga serta pimpinan perusahaan keluarganya. Kelangsungan hidup generasi Tsang kini ada di tangannya. Sementara ia bukan lelaki berkarakter kuat. Kurang punya persiapan mental menghadapi kehadiran seorang pejabat daerah yang bisa membolak-balikkan nasibnya sesukanya.
Konon sang ajudan yang akan berkunjung adalah tangan kanan kepercayaan sekaligus menantu sang bupati.  Konon Selama ini dialah yang selalu tampil secara resmi guna melaksanakan berbagai kebijaksanaan demi melindungi kekuasaan serta kepentingan mertuanya. Hadi secara tidak resmi dialah Kepala Daerah yang sesungguhnya.      

Ajudan itu datang menjelang malam beserta beberapa orang anak buahnya. Tuan Tsang menyambutnya di gerbang masuk didampingi staf administrasi perusahaan. Termasuk jajaran pelayan dan kepala juru masak.
Ia lelaki yang pongah dan banyak tingkah. Berjalan tegap memasuki rumah tanpa mengindahkan suamiku dan para penyambutnya yang bersoja menangkupkan tangan dengan badan membungkuk terhadapnya. Postur tubuhnya kokoh. Langkahnya panjang dengan tangan terayun bebas. Khas cara berjalan orang yang lama berkecimpung  di dunia militer.
" Aku tidak melihat nyonya rumah ikut menyambutku!" Suaranya menggelegar sambil menyapu ruangan.
Saat itu aku berada dibalik partisi kaca yang menyekat ruang penyambutan dengan tempat perjamuan yang bakal digunakan untuk melayani para tamu kehormatan makan malam. Membantu mengawasi para pelayan wanita. Perasaan tidak nyaman langsung menyerangku demi mendengar suara paraunya yang jauh dari nilai-nilai kesopanan.
Suamiku tergopoh-gopoh mendekatinya sambil membungkuk berkali-kali. Ia tampak begitu mengenaskan.
"Panggil istrimu!" Sang ajudan menghardik. Membuat suamiku lari ke arahku.
Entah kenapa pemandangan ini membuatku merasa puas. Terutama tatkala menyadari lelaki yang selama ini menindasku hari ini bisa jatuh martabatnya secara menyedihkan. Mirip seekor tikus menghadapi kucing yang siap memangsanya.
Aku keluar dari balik partisi dengan langkah tenang di belakang suamiku. Menahan rasa kejutan yang bergelora di dadaku.
Kutentang pandangan sang ajudan yang menyapu seluruh penampilanku sambil menyungging senyum mengejek. Ia tidak nampak terkejut melihatku. Sebaliknya justru sangat menikmati pertemuan ini.
"Aiya....." ia berseru seraya mengusap dagunya berulang kali dengan gaya tengil.
"Pantas tuan Tsang begitu ingin menyembunyikan istrinya dariku!" Serunya diiringi tawa membahana. "Begitu cantik..... begitu muda..." ia mendecak lidah.
Pandangannya beralih kepada suamiku yang seketika pucat pasi.
"Padahal kehadiran nyonya ini  akan membuat suasana perjamuan jadi lebih menyenangkan!" Lanjutnya sambil mengerling genit kepadaku. Membuat wajah suamiku bagai terbakar.
Ia nampak murka menghadapi hinaan ini. Namun tidak berdaya. Reaksi konyolnya ini spontan menimbulkan efek sebaliknya untukku. Meningkatkan rasa percaya diriku yang lama hancur dijadikan permainan olehnya.          

Aku maju selangkah di depan suamiku. Membungkuk sambil menyatukan kedua tangan di dada.
"Selamat datang tuan ajudan," sapaku. "Mohon maaf saya terlambat hadir Karena sibuk di dapur." Aku berdalih.
"Suami macam apa yang membiarkan istri sepertimu berada di tempat kotor seperti dapur!" Teriaknya sambil melemparkan pandangan marah ke tuan Tsang. Berkecak pinggang dengan congkak.
Secara jujur harus kuakui, aku sungguh sangat menikmati peristiwa ini. Kapan lagi bisa menyaksikan suamiku yang biasanya dingin dan angkuh diejek dan dipermalukan seorang tanpa mampu berbuat apa-apa?  

Penghinaan terhadap martabat keluarga Tsang masih berlanjut di tengah acara santap malam yang dipenuhi beragam hidangan kelas tinggi. Ada abalon tim, teripang, sirip ikan hiu, cakar naga. Namun suasanya lebih mirip sidang pengadilan. Berjalan tanpa jalinan komunikasi yang imbang.
Ajudan bupati menyuruh anak buahnya menikmati suguhan tuan rumah dengan rakus. Dilayani para pelayan putri pilihan. Semuanya cantik, muda dan perayu. Tuan Tsang sengaja menyewa mereka dari kedai minum tempat kaum lelaki menghabiskan harinya untuk bersenang-senang.
Sementara ia hanya memandangi hidangan yang berjajar memenuhi meja tanpa minat. Dengan kasar mengusir pelayan kami yang tercantik. Melanjutkan aksi gilanya.
"Suruh istrimu menuangkan arak untukku tuan Tsang!" Hardiknya kepada suamiku.

Saat itu aku sebenarnya sudah duduk mendampingi suamiku sebagai tuan rumah. Namun ia belum juga puas membuat jengkel dan malu suamiku dengan sikapnya yang keterlaluan.
Aku bergeming dengan ekspresi dingin. Menunggu.
Rasa jijikku terhadap tuan Tsang mencapai puncaknya malam itu. Ia bukannya menjaga kehormatan istrinya dengan menegur utusan pejabat yang sudah bertindak di luar batas kepantasan. Sebaliknya memandangku dingin. Menggerakkan kepalanya sebagai isyarat kepadaku untuk bangkit. Membiarkanku dihina dan dilecehkan hingga ke tingkat terendah.
Aku bangkit dengan wajah merah membara. Mengambil alih poci arak dari tangan pelayan yang berdiri ketakutan. Mendekatinya.
Tamu kehormatan itu mengangsurkan cangkirnya kepadaku dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya yang bebas  disusupkan ke belahan samping gaunku. Mulai menggerayangi pahaku.  
Aku sengaja membiarkan tingkahnya yang tak senonoh itu beberapa saat. Menunggu reaksi suamiku. Namun ia menunduk. Pura-pura tidak melihat.
Akhirnya dengan senyum paling memikat kuangsurkan poci itu. Lalu menuangkan arak itu ke kepalanya.

Jamuan makan malam pun berakhir kacau-balau. Ajudan bupati tidak bisa menerima sikap penghinaanku terhadapnya. Ia bangkit dengan murka sambil mengobrak-abrik isi seluruh meja. Mengancam suamiku agar secepatnya mengutusku menemuinya untuk meminta maaf. Bila tidak ia bersumpah akan menggunakan kekuasaan ayah mertuanya menghancurkan usaha keluarga Tsang.
Setelah puas mencaci-maki ia mengajak para anak buahnya meninggalkan rumah kami yang  porak poranda.
Setelah bertahun-tahun tersekap rasa letih dan putus asa hidup terkungkung dalam lingkup rumahtangga keluarga Tsang yang menyesakkan dada malam ini aku merasa lebih bersemangat. Bisa mempertontonkan sikap lebih bermartabat menghadapi ulah pejabat daerah kurang ajar  ketimbang bersembunyi dibalik sikap pengecut dan tak tahu malu yang dipertontonkan suamiku.
Namun suamiku tidak melihatnya seperti itu. Rasa putus asa membuat ia kehilangan pengendalian diri dan menjadikanku tumpahan kemarahannya.
Ia menyeretku ke ranjang. Melayangkan tinju ke wajah dan tubuhku berulangkali sebelum melucuti tubuh dan menggagahiku.
Aku menerima perlakuannya dengan dingin. Rasanya sudah lama aku kehabisan ratapan dan air mata. Tekadku makin membuncah , bahwa suatu saat ia dan keluarganya harus membayar perlakuannya terhadapku dengan sangat mahal. Aku bersumpah untuk itu.

Dua hari kemudian suamiku memaksaku pergi menemui ajudan bupati untuk menyatakan penyesalan serta permintaan maafku. Sebelumnya ia sudah mendatangi rumah dinasnya sambil membawa sejumlah barang hantaran untuk membujuk dan meredakan kemarahannya. Namun ia dan stafnya diusir dengan kasar. Sang ajudan sesumbar, aku harus datang sendiri dan bersujud di hadapannya. Baru ia bersedia membuka jalur negosiasi dengan keluarga Tsang untuk membicarakan kelangsungan hidup perusahaan.
Dengan pandangan nanap tak berdaya ia memohon padaku agar mau merendahkan diri mengunjungi sang ajudan.
Aku sengaja bersikap angkuh. Menolak permintaan sintingnya.
"Bagaimana tuan bisa mengirim istri sendiri menghadapi lelaki yang jelas-jelas bersikap kurang ajar dan merendahkan itu? Tuan tidak takut menjadi cemoohan seluruh marga Tsang dan relasi bisnis?" Tanyaku menusuk. "Apalagi dengan wajah seperti ini?" Aku sengaja memperlihatkan akibat perbuatannya yang meninggalkan memar di sekitar mata dan pipiku.
Ia tertunduk malu. "Tolonglah !" Bisiknya. "Apa aku perlu berlutut memohon padamu?"
Ia segera menekuk kakinya sambil menggayuti tanganku. Aku menarik napas, berusaha menahan ledakan tawaku melihat sikapnya yang kini mirip seekor anjing buduk di hadapan tuannya. Aku berharap selamanya bisa membuatnya begini. Terutama di hadapan mertuaku. Agar ia paham kualitas putra sulung yang selama ini begitu di banggakannya.
"Apa kata Ta Niang nanti?" Aku sengaja memancing agar ia meminta pendapat ibunya. "Aku tidak akan pergi tanpa persetujuannya!" Aku bersikeras.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline