Lihat ke Halaman Asli

Erwan Saripudin

Trainer Pertanian

Swasembada Daging adalah Mitos, Begini Cara Memelihara Sapi di Sumbawa

Diperbarui: 18 Juni 2016   01:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Sapi dan Ramadhan menjadi dua kenyataan penting bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, bukan karena sapi akan selalu di baca sebagai salah satu nama surat dalam Al Quran (Al-Baqarah), tetapi sapi dalam bentuk pangan kaya protein yang ketersediaannya selalu terganggu menjelang bulan puasa.

Banyak penulis yang menyesalkan importasi sapi dari luar negeri, kemudian mengatakan mengapa tidak mengoptimalkan serapan sapi milik petani negeri sendiri, banyak pula yang mengait-ngaitkan sapi ini dengan gejolak politik di Australia, hubungan bilateral dengan India dan masih banyak lagi yang sebenarnya tidak menambah baik kondisi persapian kita, justru menyesatkan.

Persapian negeri kita benar benar sekarat, postur populasi sapi potong kita hanya sekitar 15 juta ekor pada tahun 2015, mengalami peningkatan sekitar 5% setiap tahunnya, sedangkan kebutuhan daging sapi potong meningkat 8% setiap tahunnya.  Dapat dibayangkan perbedaan suplay dan demand tersebut akan senantiasa berlanjut tahun demi tahun, jika sejak awal import sapi (entah tahun berapa) menandai kekurangan daging sapi dari kebutuhan seharusnya, maka telah berapa persen selisih ketersediaannya sekarang ini dengan kenyataan impor yang luar biasa besarnya.

Menilik keadaan lapangan persapian mungkin bisa memberikan gambaran mengapa populasi sapi kita tidak pernah mencukupi kebutuhan daging kita.

1. Beternak itu nomor 2

Beternak di kampung halaman saya merupakan aktifitas nomor dua setelah bercocok tanam tanaman pangan dan palawija, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hasil ternak terkadang menjadi harapan utama dalam menyanggah kebutuhan keuangan dalam jumlah yang relatif besar.  Petani menggeluti pertanian tanamannya dengan sangat telaten, mengeluarkan biaya besar untuk perbaikan performance tanaman namun hanya menyisihkan sedikit tenaga dalam memelihara sapi.

2. Persaingan sapi dan tanaman pangan

Lahan di Sumbawa boleh dikatakan subur karena hampir seluruh areal usaha telah menjadi sawah.  Konflik sapi dan tanaman dalam memperebutkan lahan tampaknya selalu merugikan sapi, disaat musim tanam padi sapi hanya makan dipinggiran jalan ataupun pinggiran pematang, setelah panen padi lagi lagi sapi harus bersabar dengan memakan jerami tanpa olah karena lahan ditanami palawija maupun jagung, setelah palawija panen tampaknya menjadi kegembiraan bagi sapi karena rumput tumbuh suburnya dilahan dan itu bebas dikonsumsi bagi mereka, hanya selang bero ini sapi disumbawa tampak gemuk.

3. Pangan Pangan bernutrisi rendah

Mungkin rekan pembaca pernah melihat rumput yang tumbuh dipinggir jalan beraspal? nah jika pada musim tanam padi dan palawija, para sapi hanya mendapatkan asupan rumput liar pinggir jalan, anak-anak mereka terkadang menjadi korban tabrakan kendaraan.

4. Menitip sapi

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline