Lihat ke Halaman Asli

Erka Ray

Pelajar

Cerbung, "BUS ANTAR KOTA", Oleh: Erka Ray

Diperbarui: 29 Juli 2022   06:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

PART 1

Hari ini tanggal 12 Juli, hari Senin pagi. Hujan di kota ini. Sejak pagi mendung terlihat membungkus langit kota, berkabut sepanjang penglihatan. Padahal kemarin sore langit masih cerah, dan seharusnya hari ini juga cerah. Secerah kota yang menjemput kehidupan baru. Tapi cuaca memang seperti itu, suka berubah-ubah, kayak hati, kayak perasaan. Tapi ada kok perasaan yang mengkal tidak mau berubah, perasaan yang sudah mengakar hebat untuk seseorang.

Tunggu, kenapa jadi membahas perihal perasaan. Lagipula cerita ini bukan hanya tentang hujan. Lihat, gadis dengan balutan gamis warna maroon dan hijab berwarna hitam tampak menutupi kepalanya. Dia sedang tergesa-gesa, keluar dari rumahnya menuju jalan raya. 

Rumahnya memang tidak jauh dari jalan raya, cukup jalan kaki sebentar lalu sampai. Dia menunggu Bus. Padahal hari ini sedang hujan, meski sudah gerimis. Tapi tentunya orang-orang sedang malas untuk bepergian ke manapun jika hujan. 

Akan tetapi lagi-lagi ini perihal tugas. Gadis ini bernama lengkap Ririn Ariyani. Yang saat ini sedang menempuh pendidikan S1 nya di sebuah perguruan tinggi di kota lain, dan pagi ini sedang ada agenda yang memang mengharuskannya untuk menembus hujan. 

Setelah berdiri cukup lama, akhirnya Bus antar kota itu datang. Dengan isi Bus yang lumayan penuh, dia terpaksa duduk di kursi paling belakang. Padahal sedang hujan-hujan begini tapi orang-orang sudah berkeliaran di mana-mana. Sepanjang perjalanan, mulai terlihat hiruk-pikuk kehidupan. Dalam hidup kita memang harus bergerak untuk lebih maju. Ya iyalah, kalau gak maju berarti gak gerak. 

"Mau ke mana, Mbak?" Kernet Bus terlihat memegang karcis dan tumpukan uang dengan berbagai nominal, seraya bertanya. 

"Terminal, Pak." Gadis itu menyebutkan tujuan sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan. Memang segitu tarifnya. Jarak kota gadis itu dengan terminal tidak terlalu jauh, tapi tetap saja membuat pantat kebas jika sudah duduk dalam Bus. 

Suara dering handphone tiba-tiba membuyarkan lamunan.

"Rin, ada di mana?" Tanpa pembuka, tanpa salam, orang di seberang sambungan sana langsung nyerocos bertanya.

"Aku udah nunggu kamu dari tiga puluh menitan nih. Kamu lama deh, aku sampek kehujanan dua kali tau." Orang di seberang sana tidak memberikan jeda bagi gadis yang dipanggil Ririn itu menjawab.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline