Lihat ke Halaman Asli

Ecik Wijaya

Seperti sehelai daun yang memilih rebah dengan rela

Peran Perempuan di Tengah Badai Pandemi

Diperbarui: 10 Januari 2021   04:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Salam sehat untuk semuaaaa...

Wooow udah ganti tahun ya, masuk tahun 2021 dan kita masih terperangkap di tengah badai covid 19.  Meski vaksin sudah ada stok dan kabarnya sudah mulai didistribusi ke pelosok daerah, tetap saja badai ini tak langsung sirna juga ya.  Stok vaksin dikhususkan untuk yang rentan terdampak penularan langsung seperti nakes, manula. Untuk yang lain kudu sabaaarr ya sampai  tahun depan atau masih tahun berikutnya lagi..hehe 

Mau tak mau kudu sabar dan tetap memakai prokes 3M kalau hendak beraktifitas diluar rumah. Namun manusia adalah pembosan, siapa sih yang betah terkurung sekian lama, atau siapa yang mau kelaparan di rumah sendiri? Pasti hal itu yg dirasakan semua. Termasuk sosok perempuan dalam rumah tangganya. 

Ya, bagaimana sikap dan mental seorang perempuan yang notabene  mungkin juga statusnya adalah seorang istri atau ibu  dalam menghadapi pandemi selama ini?. Mendekati satu tahun pandemi ini , situasi berat pun pasti dirasakannya. Termasuk permasalahan mengatasi cara pembelajaran daring anak-anak dirumah, dan permasalahan ekonomi keluarga. Tentu tak terlalu berat bagi keluarga yang salah satunya bekerja sebagai pegawai negeri sipil alias berpenghasilan  tetap tanpa resiko pengurangan pemasukan keuangan keluarga. Namun, tentu berbeda bagi keluarga yang penghasilannya berasasl dari perusahaan atau bekerja mandiri. Perusahaan-perusahaan selama pandemi sudah banyak menghasilkan ribuan pengangguran baru, banyak pula usaha-usaha mandiri hancur lebur. Hal ini tentu bagi seorang perempuan yang berperan sebagai istri dan ibu berpengaruh besar. Di satu sisi, ia harus mengatasi permasalahan pembelajaran anak dirumah yang memerlukan perhatian lebih agar bisa berjalan dengan baik, di sisi lain khususnya seorang ibu pasti memikirkan pemasukan yang diterima keluarga harus tercukupi. 

Mengatasi polemik keterbatasan ilmu  para ibu untuk membantu pembelajaran anak-anaknya tetap berjalan dalam rumah tentu juga menguras pikiran dan emosi.  Dan sosok perempuan dituntut untuk mampu keluar dari keterbatasannya untuk memulai interaksi yang intensif dengan anak dan guru. Bila tidak, ia bakal keteteran membantu mengatur proses belajar mengajar dalam rumah berjalan.  Paling tidak, meski tak seratus persen terkendali perannya mencipta situasi belajar haruslah diberi respek karena perjuangan tiap hari tentu menguras energi lebih dari biasanya. 

Bagaimana seorang perempuan mengatasi polemik perekonomian yang sangat sulit kali ini?. Kita lihat di media sosial, tetangga kanan kiri hampir semua perempuannya menyingsingkan lengan. Beramai-ramai memenuhi beranda-beranda media sosialnya dengan menawarkan barang atau jasa.  Respon perempuan dalam usaha terpenuhi kebutuhan hidup keluarganya, merupakan respon cepat dan luar biasa pula. Di saat posisi suami terbatas dalam memenuhi kebutuhan keluarga akibat pembatasan sosial yang terjadi,  sosok perempuan hadir membantu.  Sosok perempuan-perempuan bergerak cepat, tangkas demi tetap mengepulnya asap dapurnya. Iya, sungguh lihatlah bagaimana beranda media sosial kita penuh dengan tawaran-tawaran yang menarik dari para perempuan ini. Dari berjualan online dari hasil tangan sendiri atau sebagai reseller mau pun yang berjualan disekitar rumah, tentu perlu diapresiasi. Agar semangat mereka membantu keluarganya bertahan tetap terus membara.

Sosok perempuan yang unik ini tentu merupakan sikap respon yang sangat positif dalam menghadapi bencana yang menerpa semua lini berkehidupan.  Sosoknya masih merupakan sosok yang tetap berusaha memastikan keluarganya akan tetap bertahan dalam keadaan baik-baik saja dalam keterbatasannya. Jadi,  para kompasioner bila menemu disekitar kita perempuan-perempuan seperti itu, tentu sebuah keberuntungan bila kita mengapresiasi dengan baik. Mungkin dengan memberi semangat dan membeli berbagai produk yang mereka tawarkan tanpa perlu harus menghakimi. Kali ini, yang diperlukan hanyalah sikap empati dan ketulusan bergandeng tangan untuk bersama-sama melewati badai pandemi  Yuk lihat sekitar dengan mata terbuka, kali ini sosok perempuan iitu kiprahnya luar biasa sangat lho!

Salam sayang  dan tetaplah sehat lahir batin untuk semua perempuan yang masih bertahan berjuang hingga saat ini.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline