Lihat ke Halaman Asli

Doharman Sitopu

Manajemen dan Motivasi

Zoom Memerdekakan Kita

Diperbarui: 20 Agustus 2021   09:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Worklife. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Tak terasa pandemi Covid 19 telah satu setengah tahun melanda dunia termasuk Indonesia. Dengan sendirinya pola kerja, pola sekolah, pola ibadah, dan pola kehidupan lainnya segera berubah pula. Tentu menyesuaikan dengan kondisi pandemi tersebut. Anak sekolah tidak dimungkinkan lagi belajar di bangku sekolah seperti biasa.  Lalu muncullah pola belajar jarak jauh, dan muncullah istilah BDR (Belajar Dari Rumah) . Demikian juga halnya dengan dunia kerja, tiba tiba pekerja diakrabkan dengn pola kerja dari rumah dan kerja dari kantor. Pekerja segera akrab dengan  istilah  WFH (Work From Home) dan WF) (Work From Office).

Umumnya dalam bekerja antar instansi bila merencanakan rapat pastilah menanyakan waktu dan tempat diadakannya rapat tersebut. Namun akhir akhir ini bila ada pemberitahuan rencana rapat, secara spontan orang yang diberitahu akan bertanya, “Zoom, ya?”

Ya, tempat diadakannya rapat bukanlah suatu yang penting lagi karena orang sudah terbiasa mengadakan meeting secara online. Jujur hal ini harus saya amini bahwa dengan adanya pandemi ini saya jadi terbiasa dengan rapat melalui online. Ini bukan iklan Zoom, namun banyak sekali instansi menggunakan aplikasi Zoom, dan sebagian lagi dengan aplikasi lainnya. Namun yang paling akrab di berbagai instansi akhir akhir ini adalah Zoom.  Konon pada pandemi ini membuat pemilik aplikasi ini menjadi lebih tajir melintir.

Sebelum masa pandemi, bila kita ditugaskan oleh kantor untuk mengikuti Tele Conference, maka sedikit mengalami kegelisahan. Pertama, karena belum familiar dengan pola meeting tersebut, kedua, saat mengikutinya pun cenderung terasa kaku, dan terasa tidak nyambung. Disamping saat itu "belum terpaksa" untuk membudayakan meeting secara daring, paradigma sebagiaan besar pekerja masih lebih memilih meeting tatap muka ketimbang online. Sekalipun itu meeting dengan melakukan perjalanan antar kota, antar pulau, bahkan antar negara.

Dalam bisnis, saya sering kali melakukan rapat ke luar kota hanya bela-belain rapat yang berdurasi 45 menit. Jika dianalisis dari segi waktu dan biaya, maka mayoritas waktu yang kita habiskan adalah untuk perjalanan dan akomodasi penginapan. Belum lagi kita berbicara masalah biaya, hanya untuk rapat 45 menit terkadang harus menghabiskan biaya jutaan bahkan puluhan juta rupiah.

Tak disadari ternyata sekarang saya, kita dan masyarakat pada umumnya telah berubah padangannya terhadap rapat daring ini.  Sudah lebih akrab, sudah lebih nyambung dan dengan kata lain sudah lebih familiar.  Inilah salah satu sisi positif yang didapatkan oleh pandemi ini. Sadar tidak sadar, mau tidak mau kita telah terdisrupsi oleh situasi sehingga bisa menerima metode meeting online ini

Bahkan untuk mengadakan ibadah secara online pun sekarang sudah merupakan hal yang biasa. Begitu juga dengan acara-acara keluarga seperti arisan dan acara-acara komunitas lainnya. Bahkan acara pemakaman pun tak jarang dilakukan secara daring.

Tak jarang bila kita melihat ke belakang, kita akan menertawakan diri sendiri . Masakan untuk rapat yang berdurasi Cuma 45 menit perlu bepergian ke luar kota? Coba kita uraikan kegiatan dan waktu yang kita lakukan. Pertama kita harus Packing, pesan ticket, pergi ke bandara, pesan penginapan, barulah keesokan harinya rapat selama 45 menit. Kembali ke penginapan, pesan ticket, kemudian beristirahat 1 hari atau kerap juga memanfaatkan waktu untuk plesiran dulu. Sayang rasanya bila tidak kesempatan itu tidak dimanfaatkan untuk jalan jalan. (mumpung gratiss, he he). Baru satu atau dua hari kemudian pulang, dan sampai di rumah pada hari Kamis malam. Oleh karena kecapekan, keesokan harinya ambil cuti sehingga kembali ke kantor pada hari senin minggu depannya.

Memang tidak semua rapat dapat dilakukan dengan online. Bilamana rapat itu mengharuskan diadakan secara tatap muka tidak ada masalah. Namun sekarang kita sudah lebih jeli memilah dan memilih rapat mana saja yang dapat dilakukan daring dan mana rapat yang dilakukan luring (tatap muka).

Ternyata tidak semua orang nyaman dengan meeting online ini. Baru baru ini saya mengalami hal yang lucu dengan klien. Mereka ngotot untu segera melakukan meeting dengan kami. Dengan budaya dan paradigma baru, kami tentu menawarkan agar diadakan melalui aplikasi Zoom. Namun klien itu menolak mentah mentah karena mungkin budaya mereka masih budaya lama. Pokoknya rapat harus tatap muka.

Singkat cerita diadakanlah rapat tersebut di tempat yang jaraknya 150 Km dari kantor kami. Butuh satu hari penuh untuk pergi dan pulang dengan biaya transportasi yang tidak sedikit dan melibatkan 3 orang kantor. Namun apa yang terjadi, rapat hanya berlangsung 30 menit karena sang klien akan pergi untuk mengikuti sebuah rapat tatap muka lainnya. ( Cape, deh. hobi kali beliau rapat tatap muka, he he ).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline