Lihat ke Halaman Asli

Ayu Diahastuti

TERVERIFIKASI

an ordinary people

Puisi: Dan Poster Pun Ikut Berduka

Diperbarui: 14 September 2021   04:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

via Solopos.com

Hari ini, telah rebah kembali di atas tanah, sejumlah resah yang berguling dalam segumpal desah, mungkin hanya diasah dalam dedah sekarung kesah, 

Hari ini, siang menelan seorang teruna muda meniti secuil harap dalam tatap meski hanya sekejap, sekiranya roda yustisia akan segera merayap, menyesap rentetan ucap yang tertata tiada terbata..... 

Beribu mata menyala, sesaat lembar terbentang pada lengan ksatria pembawa warta, hanya ingin membalut rindu sawala dalam tuntunan tata krama, tanpa bias makna kepada pemilik kuasa, semoga saja berkenan membaca.... 

Siang yang berawan di kota Bengawan, sebuah frasa diciduk sang Tuan, berikut segala rasa yang ruah bercecer di sebuah gelar asa, hingga timbul sejuta duga dan prasangka, apakah norma harus tunduk pada pemeluk otoritas penuh mantra penghisap duit negara..... 

Angin September kering meniup pelan, menggerus gambar "keadilan bersuara bagi seluruh rakyat berdaulat"

Atau mungkin mulut mural yang terbungkam harus bersuara? Haruskah mural merubah diri menjadi vandal? Memilih diksi pada dinding diorama aksi? Memilah cara sehalus sutera, menggores warna aksara semanis senja supaya tak beracara di meja dewi Themis yang sedang bermuram duka? 

Hari ini, aksi tanpa rombongan telah menjadi saksi, kala segulung kata-kata diangkut serombongan pelindung negara, haruskah kami kembali berduka hanya karena tak mampu bersuara? 

*Solo,..... siang kering yang berawan, tepat 13:59, depan kampus UNS




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline