Lihat ke Halaman Asli

Devi Tino

Penulis Musiman

Skripshit

Diperbarui: 20 Desember 2023   12:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Aku masih bingung harus aku bawa kemana alur ini?"

"Alur apaan sih Va??" tanya Tania kepadaku sewaktu kita sedang meet up di sebuah cafe. 

"Alur cerita percintaan, keluarga, kuliah... Ah pokoknya banyak lah," aku mengusap rambutku secara gusar. 

"Semua jalan yang nentuin allah Va, lo tinggal ikhtiar aja. Memang jalannya beda-beda. Mungki lo dibuat susah diawal, tapi akhirnya nanti jadi mudah."

   Entah kenapa air mata itu tiba-tiba turun membasahi pipi kananku, "Gue harus sabar gimana lagi Tan?? Sebenarnya gue udah muak sama TA (Tugas Akhir). Apa memang gue dapat dospem Pak Bian untuk melatih kesabaran gue ya?" tanyaku. 

"Yaa, maybe. Itu emang ujian untuk lo, biar lo menjadi orang yang lebih sabar lagi. Lo aja bisa menunggu dia bertahun-tahun, masa iya nunggu dospem lo ngasih acc aja ga kuat. Kuat dong!! Senyum, jangan nangis. Gue tau lo orangnya susah untuk nangis, dan mungkin ini pertama kali gue liat lo nangis."

  Tania benar-benar membuat hatiku lumayan menenang, segala macam cara akan aku lalui demi mendapatkan gelar yang membuat keluargaku bisa tersenyum. Memang drama tentang TA itu benar-benar mengombang-ambing mental. Mental harus kuat, badan harus dipaksa kuat, semua harus kuat. Sebesar apapun cobaannya jalan yang dapat dipilih hanyalah kita harus berjuang sampai akhir.

***

  Pemandangan teman-teman banyak yang sudah sidang membuatku sedikit menginginkan hal tersebut. Dua kata yang selalu aku ucapkan "Kuat dan sabar" memang itu kunci utamanya. Aku tidak menyesal dengan jalanku saat ini. Justru aku sangat menikmati hal tersebut, sehingga aku dapat menjadi orang yang lebih kuat dengan mengerjakan TA. 

    Digazebo Fakultas Seni aku memandangi dedaun yang berguguran satu persatu. Jatuh untuk tumbuh kembali. Suara derap kaki melangkah menuju ketempat keberadaanku. Sehingga membuatku ingin mengumpat. 

"Galau amat lo Va!" ledek Galih sembari menepuk pundakku. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline