Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Dendy

menulis adalah obat hati

Prabowo-SBY, Penentu Arah Oposisi?

Diperbarui: 9 Juli 2018   14:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: Muhammad Ridho/detikcom

Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019 berhubungan terhadap peta Koalisi nasional, saya rasa benar ungkapan itu, karena setelah Pilkada serentak usai, arah Koalisi Pilpres 2019 kembali mengerucut. Jika melihat tren peningkatan elektabilitas pasangan Sudrajat-Syaikhu di jawa barat, serta meningkatnya elektabilitas Sudirman-Said yang menempel Ganjar-Taj Yasin di jawa tengah, adalah bukti kekuatan kubu oposisi di kedua daerah potensial tersebut meningkat.

Jika berbicara oposisi, sudah pasti tidak lepas dari dua nama yaitu Prabowo-SBY. Kedua nama tersebut seakan menjadi perhatian publik usai Pilkada serentak 2018. Dimulai dari kehadiran Waketum Demokrat Syarief Hasan ke kediaman Prabowo beberapa hari lalu yang membuat mencuatnya duet Prabowo-AHY dalam bursa Capres dan Cawapres 2019.

Saya rasa pertemuan antara Waketum Demokrat dan ketum Gerindra Prabowo subianto tersebut tak lepas dari hasil Pilkada serentak 2018 lalu. Jika melihat tren kemenangan maupun elektabilitas di pilkada Pulau jawa, Gerindra dan Demokrat mendapatkan angin segar dalam hasil Pilkada serentak 2018 lalu.

Seperti yang saya sebut diawal, di jawa barat dan jawa tengah meskipun tak menang, ada tren peningkatan elektabilitas Sudrajat-Syaiku di jawa barat dan Sudirman Said- Ida di jawa tengah.kedua calon gerindra tersebut menacatatkan kenaikan elektabilitas yang luar biasa, meskipun tidak memperoleh kemenangan.

Yang jadi perhatian adalah Sudrajat dan Sudriman Said bukanlah tokoh sepopuler pertahana yang sudah cukup dikenal luas publik dimasing-masing daerah. Kedua tokoh tersebut baru terlihat muncul ke publik beberapa bulan bekalangan ini, dan tentu saja angka elektabilitas Sudrajat 30 persen dan Sudirman Said 40 persen adalah angka yang cukup membuktikan bahwa basis massa Prabowo dan Gerindra meningkat belakangan ini.

Jika saya boleh berpendapat, Prabowo memiliki kedua jagoan di kedua daerah potensial tersebut, jadi ibaratnya Prabowo ada endorse di jawa barat dengan sosok Sudrajat, serta Sudirman Said di jawa tengah. Meskipun kalah, Prabowo berhasil memunculkan tokoh anadalannya di jawa barat dan jawa tengah.

Hubungan Prabowo-SBY yang mesra usai Pilkada serentak 2018

Beberapa waktu lalu SBY sempat memuji mesin politik gerindra-PKS di jawa barat yang mana pasangan usungan Gerindra-PKS mampu melampaui pasangan duo Dedi yang sejak awal menjadi pasangan yang cukup berpotensi besar untuk menang.

Sikap SBY yang memuji peningkatan suara Sudrajat-Syaikhu, tentu saja menjadi indikator awal sinyal SBY akan merapat kekubu Prabowo. Karena secara basis suara, suara duo Dedi dan Sudrajat-Syaikhu sangat beririsan, sehingga selama ini pasangan Sudrajat-Syaikhu menggerus basis suara duo Dedi di detik terakhir pilkada jawa barat 2018.

Jika hanya dua pasangan saja, saya yakin Prabowo masih mendominasi suara di jawa barat, karena dengan figur Sudrajat saja yang secara popularitas masih dinilai kurang, pasangan Sudrajat-Syaikhu mampu menembus elektabilitas 30 persen. Faktor figur prabowo sangat dominan dalam peningkatakan perolehan suara Sudrajat tersebut.

Sikap SBY memuji mesin politik Gerindra di jawa barat, tentu dapat menjadi sinyal-sinyal  pengakuan SBY  terhadap basis massa Prabowo yang masih cukup kuat di jawa barat. Sejak Pilpres 2014 jawa barat memang masih menjadi basis massa Prabowo.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline