Lihat ke Halaman Asli

charles dm

TERVERIFIKASI

charlesemanueldm@gmail.com

Nasib Formula One Selepas "Diktator" Ecclestone

Diperbarui: 25 Januari 2017   09:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bernie Ecclestone (kiri) dan Chasey Carey, CEO baru Formula One/BBC.com

Setelah perusahaan raksasa dari Amerika Serikat, Liberty Media Corp mengakuisisi Formula One (F1) pada awal pekan ini, kini posisi Bernie Ecclestone semakin terasing dari dunia yang telah dilahirkan, dibesarkan dan dikuasainya selama 40 tahun terakhir. Bos (CEO) baru F1 Chase Carey tidak lagi memberi tempat kepada pria Inggris itu untuk menjalankan bisnis dan kompetisi olahraga yang terkenal berbiaya mahal itu.

Seperti dilaporkan BBC.com, Carey hanya menawarkan pria sepuh 86 tahun itu jabatan kehormatan sebagai “chairman emeritus” meski jabatan tersebut tidak lebih dari penghargaan semata dan karena itu sudah pasti mendapat respon negatif dari Ecclestone. Menguasai, bahkan sampai-sampai dicap sebagai “diktator” F1 selama 4 dekade lantas ditepikan begitu saja tentu tidak bisa diterima dengan mudah.

Tetapi Carey mengaku bahwa F1 butuh orang-orang baru yang lebih segar. Ecclestone dinilai terlalu individualis. Dalam bahasa Carey, “Bernie adalah one-man team. ”Persis seorang diktator." Perilaku tersebut, lanjut Carey, tidak cocok dengan dunia saat ini.

Atas dasar itu maka Liberty kini mempekerjakan mantan bos Mercedes, Ross Brawn dan eks sales executive ESPN, Sean Bratches untuk membantu Carey dalam urusan komersial dan olahraga.

Pertanyaan besar mengemuka, bagaimana nasib F1 setelah lepas dari Ecclestone? Bagaimanapun juga harus diakui F1 menjadi besar karena Ecclestone. Sosok yang mengawali bisnisnya dari seorang sales suku cadang bekas, kemudian membesarkan F1 dengan menjual hak siar televisi dan iklan balapan yang bernama Grand Prix pada 1978.

Lobi dan kejelian membaca pasar yang telah terasah sebagai seorang tenaga marketing kemudian membuat F1 menjadi besar dan dikenal luas. Pasang surut terutama ancaman kebangkrutan 10 tahun silam berhasil dilalui. Berhasil menggandeng CVC Capital Partners sebagai pemilik adalah prestasi tersendiri yang terus dipertahankan hingga sebelum berpindah ke tangan Liberty.

Semua itu tak lepas dari kerja keras Bernie. Begitu juga peran pentingnya memperluas ekpansi F1 keluar dari Eropa sebagai basis utama, seperti negara-negara Timur Tengah, Tiongkok dan beberapa negara Asia lainnya.

Sebagai pengganti Bernie, Chase Carey akan menghadapi tantangan besar. Pengalaman pria 63 tahun saat menjadi direktur eksekutif 21st Century Fox Inc, perusahaan media multinasional milik Rupert Murdoch, memang dibutuhkan sekali untuk menarik pangsa pasar dan menggairahkan kembali bisnis F1 yang mulai lesu akhir-akhir ini.

Beberapa hal bisa dijadikan bukti. Malaysia sudah memutuskan tidak lagi menyelenggarakan ajang balap jet darat itu di musim 2017. Penjualan tiket F1 di Sirkuit Sepang menurun karena menurunnya animo penonton. Tidak hanya yang datang menonton di sirkuit, jumlah penonton melalui televisi berbayar juga menurun. 

Jangankan dengan sepak bola bersaing dengan MotoGP saja, F1 sudah ngos-ngosan. Coba tengok ke Sirkuit Sepang untuk mendapatkan contoh perbandingan antusiasme penonton F1 dan MotoGP. Hampir pasti daya tarik Valentino Rossi jauh lebih tinggi ketimbang Lewis Hamilton.

Menurunnya jumlah pemasukan ini berbanding terbalik dengan biaya penyelenggaraan yang harus disetor kepada pihak F1. Hal itu yang membuat sejumlah negara tengah berpikir serius untuk menjadi tuan rumah. Selain Malaysia yang sudah mengambil sikap, pihak Singapura; pemilik Sirkuit Silverstone, Inggris; dan pengelola Sirkuit Hockenheim, Jerman juga belum mengambil sikap untuk memperpanjang kontrak atau tidak.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline