Lihat ke Halaman Asli

Masih ada Pemerasan dan Penipuan di Terminal Kampung Rambutan (Surat terbuka untuk Pak Jonan dan Pak Ahok)

Diperbarui: 22 Februari 2016   08:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"HATI-hati kalo ke Terminal Kampung Rambutan ada banyak preman dan penipu berbaju seragam PO, " demikian nasihat teman saya beberapa tahun silam yang saya abaikan saat masuk ke Terminal Kampung Rambutan pertama kalinya Tanggal 20 Februari 2016, sekitar pukul 20.30 ketika mau pulang ke Pekalongan.

Keberhasilan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan (saat jadi Kepala PT KAI) dalam merombak sistem di Stasiun KA dan keberanian Gubernur DKI Basuki Cahaya Purnama (Ahok) melawan aksi premanisme menyingkirkan jauh-jauh nasihat itu.

Begitu masuk, saya disambut seseorang berseragam yang mengaku karyawan PO Sinar Jaya. Saya sebenarnya sudah tidak yakin, tapi saya tetap ikuti orang itu sambil berpikir akan menolak kalo harus beli tiket di luar loket.

Maka dibawalah saya ke sebuah loket, petugas loket yang dipanggil mami menyebutkan angka harga tiket ke Pekalongan yang terdengar olehku Rp 95.000 karena biasanya tiket bus ke Pekalongan paling mahal Rp 85.000 aku bayar Rp 100.000 aku kaget ternyata harganya 195.000.

Saya pun komplain dan meminta uang kembali untuk membatalkan pembelian tiket karena kemahalan. Empat orang mengelilingiku di loket dengan nada membentak mengatakan bahwa tarifnya memang segitu sambil menunjukkan daftar harga dari PO ALS akupun komplain karena aku mau beli tiket Sinar jaya.

Ada puluhan orang yang saya lihat komplain juga dan di kejauhan saya lihat petugas keamanan melihat ada ribut-ribut tapi merekaa hanya memandang dari kejauhan dan tidak tertarik untuk mendatanginya. Saya kembali meminta pengembalian uang untuk membatalkan pembelian tiket karena uang cash yang aku pegang pas-pasan. Mereka malah menawarkankan untuk mengantar ke ATM. Saya terima tawaran itu untuk memecah kekuatan para preman biar bisa bicara berdua (kalao rame-rame dikeroyok preman kalah lah apalagi dengan kondisi kehatan saya waktu itu yang tidak fit ) .

Di perjalanan mengambil uang di ATM, saya kembali menegaskan akan membatalkan pembelian tiket.Laki-laki itu mengatakan tidak bisa dan akan bertanggungjwab serta tidak menipu.

Sekembali ke terminal , untuk kesekian kalinya saya kembali meminta uang kembali dijawab dengan bentakan tidak bisa. Merasa terintimidasi dan dipaksa, saya mencari petugas keamanan dan melaporkan kejadian itu, petugas itu terlihat bersimpati .

Saya berharap petugas itu akan mengantarkan kembali ke loket untuk membantu menarik uang saya karena mereka digaji memang untuk menjamin keamanan calon penumpang di terminal. Namun saya kecewa dia tak bereaksi sedikitpun dan hanya memandang haru. Sambil meninggalkan petugas, saya katakan ke dia, "Pak, kalau tidak ditertibkan orang akan kapok datang ke Terminal Kampung Rambutan,"tegas saya sambil meninggalkan petugas karena pegawai PO sudah teriak-teriak memanggil saya.

Salah seorang yang mengaku akan bertanggungjawab pada saya menelpon entah siapa dan bilang ada penumpang yang bawel sebelum kemudian mengajak untuk ikut naik motor untuk mengejar bus.Saya sempat menolak dan memilih akan menunggu tapi setengah memaksa dia bilang busnya sudah jalan.Akhirnya saya tak punya [ilihan dan negikuti dia.

Di dekat jalan tol dia mencegat bus dan memintaku masuk ke bus sambil meminta tiketku , saya pikir untuk ditunjukkan ke kondektur bus, ternyata dia malah kabur sambil membawa tiketku.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline