Lihat ke Halaman Asli

budi prakoso

mari jaga kesehatan

Dakwah Virtual Harus Tetap Menyatukan Keberagaman

Diperbarui: 12 September 2020   12:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dakwah Virtual - mediaindonesia.com

Perkembangan teknologi telah merubah segalanya. Segala aktifitas yang terjadi di dunia nyata, hampir semuanya bisa dilakukan di dunia maya. Tak terkecuali aktifitas dakwah atau ceramah yang umumnya dilakukan di tempat ibadah. Banyak sekali ceramah yang mulai dilakukan secara virtual. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, aktifitas secara virtual memang sangat membantu karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Namun dibalik kemudahan virtual tersebut, tetap harus diwaspadai. Karena informasi bohong atau hoaks juga masih ramai di dunia maya. Provokasi yang mengatasnamakan apapun juga masih sering terjadi. Jangan sampai, aktifitas ibadah seperti dakwah atau ceramah disusupi oleh oknum-oknum tertentu untuk menyebarkan pesan intoleransi, pesan kebencian, pesan radikalisme dan segala macamnya.

Jauh sebelum terjadinya pandemi, praktek ceramah yang disusupi oleh oknum tertentu ini memang pernah terjadi. Sebut saja ketika deklarasi ISIS di Jakarta beberapa tahun lalu, dilakukan di salah satu masjid di Jakarta. Ketika provokasi pilkada DKI Jakarta, juga dilakukan di salah satu tempat ibadah. Kini, praktek semacam ini juga mulai marak di temukan di media sosial. Banyak orang yang mengklaim dirinya paham agama, namun sejatinya ceramah yang dimunculkan seringkali berisi ujaran kebencian kepada orang lain.

Padahal, dalam Islam atau agama yang lain, tidak pernah ada satupun yang mengajarkan kebencian. Juga tidak pernah ada yang mengajarkan untuk menyebarkan provokasi. Semua agama mengajarkan perdamaian. Karena itulah, mari kita terus menyebarkan pesan damai melalui ceramah atau dakwah di media sosial. Jangan hanya mengejar popularitas, konten ceramah menjadi tidak diperhatikan.

Indonesia adalah negara dengan tingkat keragaman yang sangat tinggi. Keberagaman itu harus terus dipupuk dan dijaga, melalui ceramah-ceramah yang menyatukan. Jangan lagi ada ceramah yang penuh provokasi, yang bisa mencerai beraikan keberagaman yang ada. Ruang pubilk seperti media sosial harus dimanfaatkan mengisi pesan-pesan positif, inspiratif, dan menyejukkan.

Ketika Islam pertama kali masuk ke tanah Jawa, wali songo juga melakukan dakwah dengan cara-cara yang santun. Bahkan, para wali juga mengadopsi budaya lokal, agar Islam bisa diterima dengan mudah. Dan terbukti, masyarakat yang ketika itu sudah memeluk Hindu, Budha dan masih ada yang menganut aliran kepercayaan, banyak yang menerima Islam. Sampai akhirnya agama Islam berkembang di seluruh Indonesia. Dan Indonesia dikenali sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Mari kita lihat ceramah Soekarno. Mari kita juga dengar orasi bung Tomo. Mari kita dengarkan ceramah Gus Dur, Cak Nun, dan masih banyak lagi yang bisa kita jadikan pembelajaran. Ceramah para tokoh bangsa tersebut tidak ada satupun yang menjelekkan, menyudutkan, apalagi memecah belah. Mari kita jaga keragaman yang merupakan anugerah di Tuhan. Dan mari jaga lisan kita, untuk terus mengucapkan pesan-pesan yang menyejukkan. Salam damai.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline