Lihat ke Halaman Asli

Adnan Azhari

Biasa aja, gak usah kepo!

Tentang Seorang Wanita yang Mengagumi Sungai

Diperbarui: 13 Juli 2016   17:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cimanuk, sepanjang aliranmu adalah kisah yang akan bermuara di laut utara dan hilang bersama buih ombak

Juni, awal dimana sungai itu sedikit bermalas-malasan dengan arusnya, karena semenjak memasuki bulan maret, musim penghujan telah reda, berganti kemarau yang sibuk akan terik matahari. Tapi tidak dengan tahun ini, Juni sekarang bukanlah Juni saat Sapardi menciptakan puisi ‘Hujan di bulan Juni’ itu dulu. Sebab Maret atau Juni bukan lagi menjadi patokan musim kemarau atau hujan?

Winarti, aku mengingatmu saat aku melihat sungai, sungai apapun itu, sebab kau sendiri pernah menceritakan tentang kegemaranmu menyambangi sungai-sungai, ladang, sawah dan gang-gang sempit. Dan sungailah yang berkesan dalam ceritamu yang ku ingat

“maaf, aku sedikit mengenang karena keberadaanku persis di sebuah sungai, sekali lagi aku mengenangmu”

Kau mengatakan, di hulu sana yang dekat dengan rumahmu, sungai adalah sumber kehidupan, banyak batu-batu besar yang saling bertengger diantara aliran sungai dan itulah sebabnya sungai dihulu menjadi bening, ketimbang di hilir.

Banyak orang yang mengandalkan sungai sebagai sumber kehidupannya, mencari ikan, batu, dan pasir.

Di sungai Cimanukpun tak jauh beda, banyak penambang pasir yang berlalu-lalang dengan sampan kecilnya melaju melawan arus yang tenang, sehingga setiap lajunya menciptakan anak ombak yang salin berkejaran, lalu, hilang setelah menepi.

“oh iya Winarti, aku belum sempat menceritakan kepadamu tentang sungai Cimanuk ini”

Sungai ini sungai terpanjang di Jawa Barat, sungai hasil dari percabangan di Rentang sana. Maka tak heran jika disungai ini menjadi legenda yang fenomenal dikalangan masyarakat, berbeda dengan sungai yang pernah kau ceritakan di Hulu sana, sekalipun setiap sungai memiliki legenda yang beragam, tanpa terkecuali Cimanuk.

“Winarti, sebelum kita tidak bertemu lagi hingga hari ini, aku tak sempat mengajakmu kemari, menaiki perahu yang disekat oleh tambang dan tambang itu dari besi yang di bentangkan sepanjang sisi sungai. Hebat, bukan?”

Perahu tambang hanya berjalan miring, saat akan berlayar menuju tepi di seberang sungai, perahu itu hanya bolak-balik di tempat sebab di ujung perahu itu telah terikat oleh tambang yang membentang tadi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline