Lihat ke Halaman Asli

Bayu Samudra

TERVERIFIKASI

Penikmat Semesta

Ketika Anak Bawang Lebih Tua Ketimbang Seniornya, Pantaskah Berlaku Tidak Baik

Diperbarui: 19 April 2021   04:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Satu tim dengan anak bawang yang lebih tua (foto dari pixabay.com)

Menjadi senior yang lebih muda daripada bawahannya adalah suatu hal yang unik. Biasanya seorang senior adalah mereka dengan usia lebih dewasa ketimbang juniornya. Namun apabila juniornya lebih tua daripada seniornya, apakah bakal memperlakukan hal yang sama kepada fresh graduate?

Sebuah pernyataan yang cukup berat untuk diuraikan. Pasalnya, kita memiliki hukum tak tertulis. Bilamana ada pegawai atau karyawan baru, tentu harus mendapat sebuah hal-hal yang aneh dari para seniornya. Disuruh-suruh, dibebankan tugas yang lebih besar, dan kadang tidak mendapat perhatian dari para rekan kerja. Intinya ada hukum pergojlokan. Suatu kondisi membuat mental anak bawang down, gak betah, dan selalu salah.

Ketika karyawan atau pegawai baru tersebut mampu melalui berbagai tes tidak langsung tersebut, maka sebuah kebahagiaan. Dengan sendirinya, para seniornya akan mendekat dan memberikan perhatian beserta dukungan. Apabila anak baru tersebut gagal menghadapi ujian tak kasat mata itu, maka ia akan resign.

Namun, apa jadinya bila yang menjadi anak bawang atau fresh graduate adalah seseorang yang lebih tua atau dewasa ketimbang kita para seniornya yang masih muda?

Hal ini dialami sendiri oleh saya. Jadi gak perlu contoh jauh-jauh apalagi menerawang langit-langit.

Kita sebagai senior merasa kaget akibat kehadiran karyawan baru yang lebih tua bahkan jauh lebih tua. Anggaplah diri kita berusia 25 tahun ke atas, sedangkan dirinya, karyawan baru tersebut berusia 50 tahun ke atas. Bayangkan betapa kagoknya senior berhadapan dengan seorang karyawan baru?

Mau nyuruh sungkan, gak nyuruh ruwet sendiri. Mau judes gak bisa. Pengennya selalu mengalah. Rasanya ingin menghormati tanpa harus mem-bully terlebih dahulu, gak tega. Akhirnya dibiarkan. Gak sanggup menjalankan hukum tak tertulis tersebut. 

Hal itu dikarenakan, karyawan baru tersebut merepresentasikan ayah atau ibu kita di rumah. Jadi harus belaku sopan, santun, salam, senyum, dan sapa. Kerennya 5S. Kayak cangkolang, ngelamak, dan sok berkuasa.

Otomatis, rencana untuk bersenang-senang dengan mental karyawan baru gagal total, gatot. Hanya karena beda usia, pergojlokan dihentikan sementara waktu untuk batas waktu yang tidak ditentukan. Takut kuwalat. Hehe.

Tak berhenti di situ, senior memiliki kewajiban menuntun anak bawang agar memahami deskripsi pekerjaannya. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Apa yang dikerjakan dan tidak dikerjakan. Bagaimana cara bekerja hingga bagaimana cara mengajukan prosedur cuti.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline