Lihat ke Halaman Asli

Kisah di Balik Suksesnya Desa Wisata Pujon Kidul

Diperbarui: 15 November 2017   10:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Tahun 2017 adalah tahun keberuntungan bagi Desa Pujon Kidul. Pasalnya di tahun ini, Pujon kidul berhasil menyabet dua penghargaan sekaligus. Sabtu (13/5/2017) mendapat penghargaan dari Kemendesa PDTT sebagai Desa Wisata Agro Terbaik tingkat nasional. Tak lama kemudian, September lalu, Menteri Pariwisata juga mengadugerahkan gelar Pokdarwis Mandiri kepada Kelompok Sadar Wisata Capung Alas Desa Pujon Kidul.

Tren pertumbuhan sektor pariwisata ditambah dengan adanya kewenangan  desa yang diamanahkan oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa  memang menjadi peluang bagi masyarakat untuk turut ambil bagian dalam  pengembangan wisata. Wisata berbasis masyarakat harus menjadi nafas  pembangunan sektor pariwisata guna menjamin kebermanfaatan bagi  masyarakat.

Melihat peluang tersebut, Komunitas Averroes melalui Program  Pendidikan Agrobisnis dan Agrowisata Desa Inovatif (PADI) mengajak enam  desa di Kabupaten Pasuruan untuk mengembangkan potensi desa menuju  pariwisata berbasis masyarakat. Memulai program ini, Komunitas Averroes  mengundang Udi Hartoko, Kepala Desa Pujon Kidul, Kabupaten Malang untuk  berbagi pengalaman dalam upaya membangun desa wisata.

Belakangan ini Pujon Kidul memang banyak dibicarakan mulai dari  kalangan akademisi pembangunan desa, jajaran pemerintah hingga anak muda  penggila wisata. Udi berhasil mengintegrasikan segenap potensi desanya  untuk menjadi destinasi wisata yang unik dan menarik. Desa ini  menyediakan paket-paket wisata mulai dari cafe sawah, wisata berkuda, outbond, tracking di pegunungan, edukasi pertanian dan peternakan hingga homestay.

"Konsep kami memang memanfaatkan potensi alam, ekonomi dan budaya.  Kami kemas sedemikian rupa menjadi wisata. Bagi orang umum, Posyandu  mana bisa dipakai wisata? Apa ada wisata pemerintahan desa? Itu semua  kita jual dan laku pak. Karena orang di surabaya, Jakarta itu nggak ada seperti itu pak. Mereka sangat antusias belajar tentang budaya desa  hingga pemerintahan desanya juga dianggap menarik bagi mereka," ujar  Udi pada Workshop Sinkronisasi Program PADI, Rabu (25/10/2017).

Menurutnya, para wisatawan cenderung bosan untuk mengunjungi wisata  di perkotaan. Para wisatawan lebih suka mengunjungi desa karena mereka  mendapatkan sesuatu yang berbeda. Di desa, mereka dapat menyaksikan  keindahan alam, keramahan penduduk hingga keunikan budaya. Mereka pulang  membawa oleh-oleh khas desa dan membawa kesan yang melekat erat di  ingatan.

Berikut adalah tahapan strategis dalam membangun desa wisata sesuai dengan kisah sukses Desa Wisata Pujon Kidul:

Dokpri

Reformasi Budaya Organisasi Pemerintah Desa

Pembangunan desa wisata, diakui oleh Udi sebagai sebuah proses yang  panjang. Sebagai pemimpin, ia harus memberikan edukasi kepada  masyarakatnya. Ia memerlukan waktu kurang lebih enam tahun atau satu  periode kepemimpinan kepala desa untuk menumbuhkan sikap sadar wisata  dari masyarakat desanya.

"Membangun desa wisata adalah visi misi saya sebagai kepala desa.  Waktu saya memaparkan visi misi saya dianggap orang yang mengkhayal dan  tidak masuk akal. Karena visi misi yang dianggap tidak masuk akal itu,  orang yang mendukung saya berbalik arah dan kemudian tidak mendukung  saya. Tetapi alhamdulillah sekarang orang itu justru orang yang pertama  mendukung cafe sawah," kenang kepala desa yang tengah mengemban amanah  untuk keduakalinya ini.

Selain upaya penyadaran masyarakat, desa wisata juga harus didukung  oleh kelembagaan yang kuat. Lembaga pertama yang harus direformasi  adalah pemerintah desa sendiri. Reformasi pemerintah desa menjadi  langkah yang pertama. Kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah  desa harus didapatkan sebelum memulai proses pembangunan.

Ada yang unik dari ungkapan Udi soal penguatan reformasi pemerintah  desa ini. Ia menggunakan konsep sapta pesona wisata untuk memperbaiki  kinerja pemerintah desa. Kepala desa dan perangkat desa secara otomatis  adalah anggota dari kelompok sadar wisata. Karenanya, perangkat desa  harus menerapkan sedikitnya empat dari tujuh prinsip sapta pesona. Empat  prinsip tersebut adalah bersih, aman, sejuk dan tertib.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline