Lihat ke Halaman Asli

Aulia Indra Ramadhani

Mahasiswa di Malang

Gangguan Bahasa Verbal, Para Orang Tua Harus Tahu Ini

Diperbarui: 1 April 2022   17:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber dari Halodoc

Bahasa merupakan sarana kita untuk berkomunikasi, berinteraksi dengan manusia lainnya. Bahasa dianggap sebagai alat yang mampu menyampaikan pikiran dan perasaaan yang kita rasakan kepada orang lain. Menurut Masitoh dalam jurnalnya, seseorang yang mempunyai keterampilan bahasa yang baik akan lebih mudah menyerap informasi baik secara lisan maupun tulisan.

            Dalam keterampilan bahasa ada 4 aspek yang harus dikuasai yaitu menyimak, mendengarkan, berbicara dan menulis. Setiap manusia harus menguasai 4 aspek dalam bahasa agar manusia tersebut bisa terampil berbahasa secara lisan maupun tulisan. Keterampilan bahasa ini sifatnya tidak turun menurun melainkan alamiah, setiap manusia dapat berbicara.

            Pada saat masih anak-anak kita hanya bisa mengeluarkan ocehan yang tidak bergitu jelas (bubbling) ataupun bergumam. Seorang  bayi yang awalnya hanya bisa bubbling lama kelamaan bahasanya akan berkembang, memiliki pembendaharaan yang banyak, tetapi tiap anak tidak sama persis pencapaiannya, ada yang cepat ada juga yang membutuhkan waktu yang lama. Maka dari itu orang tua harus pintar-pintarnya memberi stimulus agar bahasa verbal anak bisa berkembang dengan semestinya.

            Bahasa verbal adalah bahasa yang berbentuk lisan (berbicara) ataupun berbentuk tulisan. Menurut dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sumatera Utara yaitu Tri Indah Kusumawati, komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tulisan atau bentuk komunikasi kata-kata, baik dalam bentuk percakapan maupun lisan (speak language). Bahasa verbal ini tentunya memiliki peran besar dalam hal berkomunikasi, karena ide, pemikiran, perasaan akan mudah tersampaikan dan dapat dimengerti oleh lawan bicara.

            Setiap manusia memiliki dua kemampuan berbahasa verbal yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Bahasa reseptif dan bahasa ekspresif sudah pernah saya tulis sebelum artikel ini, tetapi akan saya akan singgung sedikit bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Bahasa reseptif adalah kemampuan seseorang untuk menyerap, menerima informasi berupa simbol (suara, gerakan, tanda, simbol yang sudah disepakati). Hal yang terpenting terkait dengan bahasa reseptif yaitu;

  • Mendengar
  • Anak pasti belajar bahasa reseptif terlebih dahulu sebelum bahasa ekspresif
  • Syarat, jika anak tidak bisa menguasai bahasa reseptif, anak tidak bisa berkomunikasi

Sementara bahasa ekspresif adalah kemampuan seseorang menyampaikan informasi. Jadi perbedaan bahasa reseptif dengan bahasa ekspresif, jika bahasa reseptif menyerap informasi sedangkan bahasa ekspresif adalah menyampaikan informasi.

            Kemampuan bahasa verbal baik reseptif maupun ekspresif harus dikembangkan sejak usia dini agar ia tidak memiliki gangguan dalam bahasanya. Ciri-ciri anak yang mengalami bahasa reseptif yaitu;

  • Kesulitan memahami dan mendengarkan
  • Sulit berkomunikasi dengan teman sebanyanya
  • Tidak emngikuti instruksi yang dapat diikuti oleh anak yang sesuainya
  • Mengulangi instruksi
  • Kosa kata yang dimiliki lebih sedikit daripada anak yang tidak mengalami gangguan reseptif.

Ciri-ciri anak yang mengalami gangguan bahasa ekspresif yaitu;

  • Kesulitan mengekspresikan apa yang ingin disampaikan
  • Kesulitan menulis cerita
  • Mengucapkan kalimat yang tidak dimengerti
  • Kesulitan menyatukan kalimat
  • Sering berkata,"aa" dan "umm"
  • Kesulitan menemukan kata yang tepat kaetika berbicara.

Ciri-ciri gangguan diatas pasti ada penyebabnya yaitu;

  • Kurangnya interaksi dengan orang tua
  • Kurangnya model pengajaran bahasa
  • Hambatan pada otak dan syaraf
  • Kurangnya motivasi untuk berbicara
  • Sering menonton televisi, dengan anak sering menonton tv, ia hanya dapat menerima informasi bukan menyampaikan informasi. Televisi ini hanya bekerja satu arah.
  • Lingkungan sekitar anak

Gangguan bahasa verbal ini tidak selamanya dialami pada anak, gangguan ini dapat diobati dengan cara terapi. Terapinya bukan sembarang terapi ya bunda-bunda, tetapi terapi yang pada ahlinya saja. Terapi yang dimaksud yaitu terapi wicara. Tetapi terapi ini memerlukan waktu yang lama, tergantung tingkat keparahan gangguan yang dialami si anak.

Terapi wicana menurut Sunanik dalam jurnalnya, terapi ini untuk melatih anak untuk terampil mempergunakan sistem ecoding berupa kemampuan mempergunakan arahan untuk bicara, menggerakkan lengan tangan dan tubuh yang lain, serta ekspresi wajah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline