Lihat ke Halaman Asli

Hasto Suprayogo

Hasto Suprayogo

Hidup Ibarat Pertunjukkan Sirkus

Diperbarui: 14 Januari 2018   20:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sirkus Ringmaster (Dokumentasi pribadi)

Beberapa waktu lalu kami menonton sirkus. Jujur, ini kali pertama  saya nonton sirkus, secara langsung. Sebuah pengalaman menarik. Namun,  di luar menariknya sirkus sebagai tontonan, entah kenapa saya justru  terbersit sirkus sebagai refleksi hidup.

Dalam sirkus selalu ada  ringmaster, yang memainkan peran pemimpin rombongan, pemandu acara  sekaligus pengatur ritme pertunjukan. Hal serupa ada dalam hidup  keseharian kita. Di keluarga, di lingkungan sosial, atau pekerjaan, akan  selalu ada dan butuh selalu ada yang memainkan peran serupa. Peran  pemimpin, pengatur, koordinator dan pemandu kebersamaan.

Kadang  kita diberi kesempatan menjalani peran rigmaster macam ini.Kadang kita  berharap diberi kesempatan ini. Seringnya, orang lain yang diberi kesempatan ini. Tak jarang kita berebut mendapatan kesempatan ini. 

Sirkus tali (Dokumentasi pribadi)

Dalam sirkus, ada yang bermain tali. Merambatinya pelan naik ke atas.  Menggenggamnya erat, menarik tubuh, melawan gravitasi, untuk menanjak. Kadang di pertengahan jalan, tali akan bergulung, membelit atau bahkan  berayun. 

Begitu pula hidup. Kita berlomba mendorong diri,  memanjati temali kehidupan. Menuju atas, menaiki jenjang karir, meraih  kemajuan. Kadang jalur itu tak lancar, kadang ia berbelit, kadang pula  ia berayun dan memaksa kita turut atau bahkan berpindah menggenggam  temali lain. 

Sirkus keseimbangan (Dokumentasi pribadi)

Dalam sirkus ada pemain keseimbangan. Biasanya  berpasangan. Dua sosok, saling mendukung, saling menguatkan. Kadang satu  di bawah, lainnya bertopang di atasnya. Namun keduanya adalah pasangan.

Begitu juga hidup. Kita selalu butuh manusia lain untuk berpasangan.  Kita butuh dukungan, dorongan, sandaran untuk bisa menjulang. Kadang  kita tak sepaham, namun lewat komitmen, kita bisa terus sejalan.

Sirkus ketinggian (Dokumentasi pribadi)

Di sirkus ada pemain roda baja bertopang di ketinggian. Di dalam roda  itu dia berlarian, berputaran, berloncatan ke depan balik ke belakang.  Kadang di membuka mata, tak jarang lompatan dilakukan dengan pandangan  terpejam. Hanya berpegang pada keimanan.

Begitu pula hidup. Dia  ibarat roda yang terus berputar, dan kita di dalamnya berlarian.  Berusaha mengikuti putaran, terkadang mempercepat rotasinya, namun  seringpula tersengal kelelahan dibuatnya. Kadang kita hanya berjalan  penuh kepastian, di lain waktu kita kita hanya mengalir berdasar  keyakinan. 

Sirkus pelawak (Dokumentasi pribadi)

Di sirkus ada joker sang badut pelawak.Dia bepakaian  unik dan bertingkah konyol. Sering geraknya canggung, gesturnya nanggung  dan perkataannya kurang nyambung. Fungsi membuat penonton tertawa, dan  kita senang dibuatnya.

Begitu juga hidup. Kadang kita  menertawakan orang lain. Tingkah mereka, gaya hidup mereka, pandangan  mereka atau bahkan tak jarang tampilan lahir mereka. Namun sering kita  lupa, sebegitu kita bisa menertawakan mereka, sebegitu bisa pula kita  ditertawakan oleh lainnya. Kita anggap orang lain badut tanpa sadar  bahwa kita bisa jadi badut bagi orang lain.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline