Lihat ke Halaman Asli

Banyuwangi, Mutiara di Timur Jawa

Diperbarui: 28 Maret 2016   22:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Pantai Teluk Hijau, Banyuwangi. (Dok.Pri)"][/caption]

Kereta Api Sri Tanjung mengantarkan kami bertiga melintasi tiga provinsi, dari D.I Yogyakarta menuju kabupaten paling timur di tanah Jawa, Banyuwangi. Biasanya ketika bepergian ke Timur, orang akan langsung menuju Bali dan melewatkan Banyuwangi, padahal kabupaten di tanah Blambangan ini juga tak kalah menarik ketimbang pulau Dewata.

Rabu pagi 23 Maret 2016, pukul 06:30 kami sudah berdiri manis di peron menanti kereta Sri Tanjung yang tengah dilangsir. Kereta diparkir di jalur II stasiun Lempuyangan dan memiliki konfigurasi enam gerbong ekonomi dengan total penumpang yang dapat terangkut sekitar 600 orang. Empat gerbong di depan ternyata sudah dibooking oleh rombongan siswa SMA yang hendak pergi ke Bali, beruntung kami duduk di gerbong ekor jadi tidak menjadi satu dengan rombongan siswa.

KA Sri Tanjung tidaklah semewah KA Taksaka ataupun Lodaya, dari kelasnya pun sudah jelas kalau KA relasi Jogja-Banyuwangi ini adalah kelas ekonomi. Jauhkan gambaran akan duduk nyaman, rileks dan perjalanan cepat. Dengan duduk tegak, perjalanan selama 14 jam pun dilibas dengan sempurna. Dari matahari terang hingga gelap kami masih duduk di atas kereta, hingga pukul 20:50, sesuai dengan jadwal yang tertera di tiket KA Sri Tanjung pun tiba di stasiun Karangasem, Banyuwangi. Oh ya, untuk perjalanan sejauh 600 kilometer itu cukup membayar Rp 100.000,-

[caption caption="Tampak depan Stasiun Karangasem saat pagi hari (Dok. Pri)"]

[/caption]

Stasiun Karangasem menjadi tempat perhentian terakhir kami, bukan stasiun Banyuwangi Baru. Alasannya, stasiun Karangasem berlokasi paling dekat ke kota, sedangkan Banyuwangi Baru diperuntukkan bagi mereka yang hendak langsung menyebrang ke Bali via pelabuhan Ketapang. Baiklah, dari Stasiun Karangasem inilah perjalanan kami menapaki Bumi Blambangan dimulai.

Banyuwangi, Kota Ramah Backpacker 

Pejalan muda seperti kami umumnya berkantong tipis walaupun punya semangat dan daya jelajah yang tinggi. Mengatasi kantong yang kempes itu kami berupaya menekan pengeluaran seminim mungkin, terutama dalam hal penginapan. Bersyukur, karena Banyuwangi sedang membangkitkan geliat pariwisatanya, salah satunya adalah dengan bertebarannya homestay murah yang cocok untuk backpacker. 

[caption caption="Toko Subur, salah satu rumah toko yang disulap menjadi homestay bagi para pejalan (Dok. Pribadi)"]

[/caption]

Abu Tholib, seorang warga di stasiun Karangasem, tiga tahun lalu menangkap potensi ini. Baginya, Banyuwangi ibarat supermarket wisata, mau naik gunung ada, mau ke laut pun ada. Menangkap potensi ini, ia bersama isterinya menyulap rumah toko di depan stasiun Karangasem menjadi rumah singgah bagi backpacker. 

Strategi promosi yang dilakukannya tidak banyak, awalnya hanya memasang tulisan bahwa rumahnya menyediakan kamar. Satu hal yang menjadi kunci adalah keramahan, ia bersama isterinya mengutamakan keramahan kepada seluruh tamunya hingga mereka merasa kerasan dan akhirnya menyebarkan kesan tersebut lewat blog ataupun mulut ke mulut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline