Lihat ke Halaman Asli

Arya BayuAnggara

Menulis untuk mengingat luasnya dunia

Sebuah Mimpi I

Diperbarui: 6 Agustus 2022   15:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumentasi Pribadi

Dokumentasi pribadi: versi tulisan tangan dari tulisan ini

Perjalanan pagi itu melelahkan. Bus-bus yang kami tumpangi tidak senyaman yang kami harapkan. Malahan, pengalaman perjalanan kami terasa menyebalkan. 

AC-nya tidak berfungsi dengan baik. Kursinya jauh dari kata empuk. Beberapa kursi busanya telah menyeruak. 

Malah ada yang bolong. Pintu jendelanya terkesan kuno sekali. Sebuah penjepit yang perlu ditekan. Kemudian didorong ke depan agar membuka. 

Sangat manual. Kadang-kadang mentok oleh sesuatu yang gaib. Sialnya, anginnya masuk terhambat dan menyisakan hawa panas memanggang kami. 

Keadaan terasa buruk di pertengahan perjalanan. Siang hari terik di jalanan penghubung di Kabupaten Kampar. Jauh dari pemukiman. 

Semak dan belukar sahabat setia sepanjang perjalanan. Tapi, mereka tidak mengucapkan celotehan apapun. Alias, kebanyakan sudah terlelap. 

Pak sopir juga kurang inisiatif. Tidak menyetel musik apapun. Para abangan di samping sopir juga asik berbicara satu circle. Tersisalah Kami para anak bawang menderita kantuk dan pusing.  


Keberangkatan bus-bus dari pelataran sekolah berlangsung khidmat. Sebelum aroma anak muda menyeruak. Teriak-teriak. Kayak monyet. Foto-foto. Bibir monyong. 

Beberapa terhormat ambil gitar dan bernyanyi. Kami masih ceria sekali. Padahal matahari telah naik sedikit. Cuacanya panas membakar. Sebagian besar dari kami berpakaian tertutup. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline