Lihat ke Halaman Asli

Arnold Adoe

TERVERIFIKASI

Tukang Kayu Setengah Hati

Menerka Arah Politik Ping-Pong untuk Anies

Diperbarui: 7 Februari 2021   14:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto (kiri), Calon gubernur DKI Jakarta nomor urut 3, Anies Baswedan memberikan keterangan pers di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Rabu (15/2/2017). Anies Baswedan mengucapkan terima kasih kepada warga Jakarta yang telah berpartisipasi memberikan hak suaranya dalam pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta. (KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)

Isu tentang  rencana revisi UU Pemilu yang mencantumkan usulan gelaran pilkada serentak pada 2022 paling banyak menyeret nama Gubernur DKI, Anies Baswedan, dan akhirnya membuahkan dugaan-dugaan politis yang riuh di tengah publik.

Soal apa? Soal posisi koalisi pemerintah dan oposisi terhadap rencana revisi ini. Koalisi pemerintah hari ini terhitung bulat untuk menolak rencana revisi UU Pemilu tersebut yang berarti mendukung pilkada diadakan serentak pada 2024 nanti.

Sebaliknya, oposisi, PKS dan Demokrat memilih agar pilkada diadakan 2022, yang artinya menjadikan bahwa pada 2024 nanti, keramaian pemilu hanya tertuju pada pilpres.

Di situasi ini, nama Anies Baswedan disebut-sebut. Ada yang menilai gelaran serentak pada 2024 nanti, adalah langkah untuk mengganjal Anies untuk menjadi gubernur untuk periode kedua kalinya.

Hitungannya tentu jangka panjang. Jika Anies terpilih pada 2022 nanti maka stamina politiknya akan tetap terjaga, sekaligus elektabilitasnya bisa naik, jikalau Anies semakin moncer di kursi gubernur.

Lalu bagaimana jika pilkada 2022 yang kemungkinan besar tidak jadi digelar, apakah ini berarti Anies betul-betul merugi? Jika ditilik, tidak juga demikian.

Baca JugaPDIP Gandeng Anies? Bagaimana Nasib Risma?

Mengapa? Politik Ping-pong yang seperti memindah-mindahkan Anies ini memang memiliki kerugian dan juga keuntungan bagi seorang Anies. Kerugiannya, seperti dipaparkan di atas Anies akan kehilangan panggung lebih lama di Jakarta.

Hanya yang dilupakan, posisi Anies yang non partisan---tidak bergabung sebagai kader politik manapun membuat dia memiliki gerak flesibilitas yang tinggi sekaligus menjadi komoditi politik yang berkualitas.

Perhatikan saja bagaimana riak politik sesudah Jokowi mengumpulkan jubir Tim Kampanye Nasional (TKN) yang terendus bertujuan untuk mendukung Pilkada serentak 2024.

Sesudah itu, isu atau rumor tentang Anies ada dimana-mana. Anies diajak untuk bertemu secara diam-diam oleh Ketum Gerindra, Prabowo Subianto,  lalu hasil survei tiba-tiba yang kembali menegaskan Anies dengan elektabilitis yang tinggi, penghargaan transportasi untuknya, lalu yang paling akhir pergunjingan bahwa PDIP akan menggandengnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline