Lihat ke Halaman Asli

Arnold Adoe

TERVERIFIKASI

Tukang Kayu Setengah Hati

Jika Ingin Pulang, Sebaiknya WNI Eks ISIS Diisolasi di Pulau Arwad

Diperbarui: 10 Februari 2020   18:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Illustrasi : Tribun

Isu tentang rencana pemulangan 600 Warga Negara Indonesia (WNI) Eks ISIS dari Suriah ke Indonesia mengundang pro kontra di masyarakat. Ada yang setuju ada pula yang menolak.

Yang pro paling tidak menggunakan dua alasan yakni hukum dan juga kemanusiaan.

Dari aspek hukum, dikatakan WNI itu tetaplah WNI. Ketika mereka masih WNI mereka berhak pulang, apalagi negara secara hukum tidak mungkin melarang mereka untuk pulang jika mereka juga ingin pulang.

Dari sisi kemanusiaan, mana mungkinlah kita membiarkan WNI yang kabarnya kebanyakan wanita dan anak-anak itu terlunta di Siria dan dilarang pulang.

Yang kontra atau menolak tak kalah mengapungkan kuat-kuat alasan mereka, bahkan alasan ini mungkin kedengaran kejam atau tak punya hati bagi yang pro.

Alasan mereka umumnya adalah mengenai keputusan para WNI ini pergi ke Siria. Jika sudah pergi bahkan rela membakar paspor WNI mereka, sebaiknya tak usah pulang. WN ia, tapi ketika membakar paspor beramai-ramai, "I"-nya serta merta hilang. Tentu saja subyektif, tetapi siapa yang tidak kesal melihat sesama anak bangsa melakukan hal yang demikian.

Apalagi (nah ini pokoknya), mereka sudah dilatih menjadi kombatan, atau orang yang dilengkapi dengan kemampuan membunuh, memegang senjata siap mati demi membela doktrin ISIS.

Teriak kontra-tor ini seperti ini. "Wanita dan anak-anak, itu bisa membunuh juga, bagaimana jika pulang ke Indonesia nanti?". Bagi yang pro, akan mengatakan ini hanyalah asumsi, tetapi bukankan asumsi itu wajar ketika melihat video bahkan cerita tentang kekejaman ISIS?

Apalagi yang pro akan mengatakan, "mereka tidak begitu, mereka hanya korban dari suami suami mereka yang memaksa mereka. Lihat wajah sayu dan sedih mereka"

Kadang-kadang saya merasa situasi ini kayak cerita ketika  bertemu pengemis di perempatan lampu merah dan terjadi perdebatan di dalam mobil. 

"Kasih tuh 5000 perak".  "Eh, jangan 2000 saja".  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline