Lihat ke Halaman Asli

Herdian Armandhani

Pemuda yang Ingin Membangun Indonesia Melalui Jejaring Komunitas

Natal, Momen Peningkatan Semangat Ke-Bhineka-An dalam Keberagaman

Diperbarui: 24 Juni 2015   19:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Natal merupakan hari yang paling di tungu-tunggu oleh umat kristiani di seluruh dunia. Natal merupakan hari di mana sang juru selamat dilahirkan di dunia untuk memberikan pesan kasih kepada seluruh umat manusia di bumi. Indonesia merupakan salah satu negara yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan adat yang notabene terbungkus didalam satu bagian NKRI yang berdaulat. Saat ini entah mengapa oleh organisasi yang mengayomi umat muslim malah mengharamkan pengucapan natal. Kita ligat saudara-saudara kita umat nasrani tidak segan ketika kita merayakan hari besar keagamaan tidak adalah larangan dari organisasi keagamaan yang mengayomi mereka. Mereka dengan hati yang tulus mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri (Islam), selamat hari raya Nyepi (Hindu),selamat hari raya Waisak (Buddha) dan selamat hari raya Imlek (Konghucu).

Kemerdekaan Negara Indonesia pun dahulu diperjuangkan oleh para pahlawan juga tidak melulu yang menganut muslim. Sebut saja perjuangan Thomas Matulessy (Pattimura), Christina Martha Tiahahu, I Gusti Ngurah Rai, Robert Wolter Monginsidi, Romo Albertus Soegiyapranata, Yosaphat Sudarso, Maria Walanda Maramis, Agustinus Adi Sucipto, Ketut Jelantik, Dr Johanes Leimena,Johannes Abraham Dimara,Frans Kaisepo, Marthen Indey, Silas Papare, I Gusti Ketut Jelantik dain sebagainya. Mereka merupakan pahlawan-pahlawan non muslim yang membela kedaulatan NKRI dengan darah bahkan nyawa mereka dari penjajahan bangsa asing. Mereka tidak pernah berpikir bahwa kemerdekaan diperjuangkan oleh kaum muslim tetapi non muslim pun wajib berjuang untuk merebut kemerdekaan.

Lalu ada juga organisasi kemasyarakatan radikal garis keras yang mengatasnamakan agama tertentu terkadang merusak, melakukan "sweeping " pada club malam, menutup paksa warung yang buka pada saat bulan suci ramadhan padahal mereka hanya mencari sesuap nasi, bahkan melarang pendirian rumah ibadah. Hal-hal tersebut terkadang menjadi permasalahan serius bagi umat agama non muslim sehingga menjadi gesekan-gesekan yang membuat semangat ke-bhineka-an terasa pudar.

Natal, merupakan momen perenungan diri kita bagaimana menjadi individu-individu yang memiliki kasih terhadap sesame, menjadi empati terhadap saudara-saudara kita yang menglamai musibah tanpa melihat darimana ia bersal baik suku,agama,ras dan adatnya. Natal, merupakan bagi kita semua bangsa Indonesia untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme kebersamaan. Menjadi satu berjabat tangan untuk membangun Indonesia yang berkeadilan dan Makmur disegala sektor baik politik,ekonomi,sosial,budaya,pertahanan dan keamanan. Semangat ke-bhineka-an pun juga pernah digaungkan oleh almarhum presiden RI ke-4 yakni KH.Abdurrahman Wahid. Semoga Natal di tahun 2012 menjadi Natal yang penuh kasih, tidak adanya jurang pemisah antar umat dan tetap menjaga persatu dan kesatuan dibawah naungan pancasila. Salam Damai untuk kita semua.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline