Lihat ke Halaman Asli

Hari Sumpah Pemuda, Tanpa Angka di Antara Kita

Diperbarui: 29 Oktober 2018   14:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Satu jam berlayar di dunia maya, telah membuat saya sedikit banyak tahu bahwa pemuda masa kini tetap ingat hari bersejarah bangsanya (atau mungkin karena diingatkan media sosialnya). Kesimpulan ini saya ambil berdasarkan bertebarannya Ucapan selamat hari sumpah pemuda di media sosial.

Genap 90 tahun berlalu setelah peristiwa sumpah pemuda yang diucapkan bersama dalam kongres pemuda tahun 1928. Pengakuan satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa Indonesia, telah membawa angin baru bagi persatuan yang diidamkan. 

Sehingga saya rasa aneh ketika pemuda kekinian (masa kini maksudnya) menggunakan bahasa asing sebagai "bumbu" dalam berbicara. Mari kita sama-sama lihat, berapa banyak yang menggunakan kata-kata dalam bahasa inggris saat berbicara, ada kata Which is, so, ofcourse dan lain sebagainya yang kerap kali bercampur bak gado-gado dengan rasa yang jauh berbeda

Terus terang saya mengagumi orang-orang yang memiliki kemampuan dalam berbahasa asing bahkan punya keinginan untuk memiliki, cuma mbok yo jangan dicampur-campus to mas e.

Itu persoalan bahasa, lalu persoalan mentalitas berbeda lagi.

"Rapuh" mungkin itu kata yang tepat jika menilik keadaan pemuda zaman ini. Putus cinta berujung menggantungkan kain keleher. Skripsi belum di ACC Pembimbing malah memilih minum secangkir racun. Berbagai kenyataan yang membuat dada sesak.

Jika saja pemuda tahun 1928 dahulu melihat keadaan ini mungkin ia akan membatin, "duh Gusti yang Agung, kok generasi yang kutinggalkan jadi begini".

Bangsa ini tak kekurangan pemuda cerdas, begitulah kalimat yang saya yakini. Terbukti banyak gagasan besar yang dihadirkan. 

Terlalu mudah menyerah, inilah yang perlu diperbaiki pemuda masa kini. Padahal soal kesabaran, bangsa ini dan pemuda zaman dulu cukuplah menjadi contoh. Kurang lebih 3 1/2 abad dijajah Belanda kemudian diduduki oleh Jepang selama 3 1/2 tahun tidak membuat perjuangan memerdekakan bangsa dan diri menjadi surut. Hingga akhirnya kita dapat nikmati bangsa yang bebas dalam berdemokrasi.

Intelegensi, big energy, and integrity.. 

Ini yang kita butuhkan bersama untuk membangun Bangsa. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline