Lihat ke Halaman Asli

Aprillia Wahyu

Mahasiswi Program Studi Agroekoteknologi

Tim PKM-RE Universitas Diponegoro Olah Limbah dan Gulma Jadi Produk Pestisida

Diperbarui: 15 September 2021   23:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumen pribadi

Semarang(15/09/2021)-Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Riset dan Teknologi kembali menggelar Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada tahun 2021. Program Kreativitas Mahasiswa adalah kegiatan untuk meningkatkan mutu peserta didik di perguruan tinggi agar kelak dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional.

Tiga mahasiswa dari Universitas Diponegoro yang tergabung dalam tim PKM-RE yaitu Aprillia Wahyu Wijayanti (21), Dina Lifiyasari (21), dan Rey Wally Bintang Ramadhan (20) dibawah bimbingan Dr. Ir. Eny Fuskhah, M.Si. membuat pestisida nabati yang berbahan baku limbah kulit jeruk dan tanaman putri malu.

Aprillia selaku ketua tim menyampaikan bahwa alasan pemilihan kulit jeruk dan tanaman putri malu yakni ketersediaan kedua bahan baku tersebut yang melimpah dan murah sehingga dapat menekan biaya produksi dan menghasilkan produk pestisida yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan dibandingkan dengan produk sintetis yang beredar dipasaran.

"Tanaman putri malu hingga kini belum optimal dimanfaatkan dan hanya tumbuh liar sebagai gulma, sedangkan kulit jeruk mudah didapat karena produksi jeruk di Indonesia sendiri pada tahun 2015 hingga 2019 mengalami peningkatan, untuk penelitian ini kami aplikasikan (pestisida nabati) pada tanaman cabai" ungkap Aprillia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2019 tanaman cabai merupakan komoditas hortikultura dengan permintaan mencapai 1 juta ton/tahun. Namun, Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga harus melakukan impor dari negara India 39.928 ton, China 4.098 ton, dan Thailand 307 ton. Pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang masih kurang dan berimbas impor disebabkan oleh serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dalam proses budidaya tanaman cabai.

Rey mengatakan "Apabila OPT selalu diatasi dengan pestisida sintetis tentunya dalam jangka waktu panjang dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Oleh karena itu pestisida nabati ini dapat dijadikan alternatif (dalam mengatasi serangan hama dan penyakit) yang ramah lingkungan"

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa formula pestisida nabati kami dapat menekan serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai dengan kinerja yang tidak kalah dengan pestisida sintetis," imbuh Dina.

Pestisida nabati berbahan baku limbah kulit jeruk dan tanaman putri malu dapat menekan serangan hama hingga 77,32% dan penyakit 86,74% apabila dibandingkan dengan tanpa pestisida.

Melalui program dan penelitian yang telah dilaksanakan, Aprillia dan tim berharap ke depannya produk pestisida nabati yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut menjadi solusi dalam menekan serangan hama dan penyakit tanaman cabai yang ramah lingkungan demi tercapainya pertanian berkelanjutan.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline