Lihat ke Halaman Asli

Sutrisno

Apoteker Komunitas

Era Disrupsi Teknologi, Masih Pentingkah Pendidikan Formal?

Diperbarui: 26 Oktober 2019   12:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi belajar di luar kelas. (Sumber: iStockphoto/AGrigorjeva)

Istilah disrupsi atau era disrupsi yang sering muncul dalam kosakata keseharian masyarakat belakangan ini dapat diartikan sebagai pergeseran fundamental aktifitas masyarakat, dari aktifitas nyata menuju aktifitas digital yang sifatnya cenderung maya.

Fenomena ini didukung, diawali dan ditandai dengan amat cepatnya perkembangan teknologi yang semakin memudahkan manusia. Dampak dari pesatnya kemajuan teknologi inilah yang melahirkan istilah revolusi digital, atau revolusi industri 4.0.

Ketika dulu teknologi menjadi media yang memudahkan manusia dalam memenuhi aktifitas. Kini teknologi telah mengubah wajah lebih dari separuh sendi aktifitas kehidupan manusia.

Sebagai contoh dari mulai gaya hidup, media komunikasi, seni dan hiburan, transportasi, persaingan kerja, dan secara makronya tentu adalah revolusi besar dalam dunia bisnis.

Belakangan nampaknya dampak sosial disrupsi teknologi ini mulai menggugat makna atau arti pentingnya sebuah pendidikan formal terhadap eksistensi kehidupan generasi di masa kini. Apa itu eksistensi dalam kehidupan sosial?

Eksistensi dalam kehidupan sosial dapat diartikan sebagai perwujudan "keberadaan" manusia dalam masyarakat, keberadaan ini lebih pada pengakuan seseorang itu ada atau aktual atau diakui keberadaannya dalam masyarakat sosial.

Dalam kultur sosial masyarakat yang berlaku di era sekarang keberadaan manusia secara sosial  (baca:eksistensi atau aktualisasi) akan ditentukan oleh status sosial : pendidikan, pekerjaan, popularitas, penghasilan, pangkat, maupun jabatan. Pengakuan sosial atas aspek ini begitu kuat di kalangan masyarakat dan masih berlaku hingga sekarang. 

Era disrupsi teknologi banyak memunculkan wajah-wajah baru yang bisa dianggap mewakili icon generasi baru dari yang internasional semisal Jack Ma, Nadiem Makarim, Achmad Zaky, William Tanuwijaya, bahkan sampai ke Ria Ricis dan Pak Ndul sang Ahlinya Ahli dan Intinya Inti.

Sebenarnya di luar deretan nama-nama tersebut, masih terdapat ribuan generasi muda yang terdampak secara positif oleh disrupsi teknologi ini secara signifikan.

Revolusi teknologi menggugat pendidikan formal. 

Jika sebuah nilai eksistensi  sosial bisa perlahan digeser ke ranah digital dan mampu menghasilkan generasi yang eksis secara parameter sosial, pertanyaan mendasarnya adalah, lantas apa gunanya pendidikan formal? Butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk menyelesaikan pendidikan formal (mungkin) dari taman kanak-kanak sampai mendapatkan jenjang Strata 2.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline