Lihat ke Halaman Asli

Anton 99

TERVERIFIKASI

Lecturer at the University of Garut

Menjaga Lidah dengan Tutur Kata yang Baik, Bernilai Sedekah

Diperbarui: 9 Maret 2021   21:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar: ilustrasi malu saat salah berbicara (Sumber foto: unsplash.com via fimela.com)

Menjaga lidah merupakan kewajiban bagi setiap orang agar tidak terjerumus pada timbulnya sejumlah masalah akibat dari adanya salah ucap, salah kalimat maupun salah dalam menyampaikan kata-kata karena spontan tanpa adanya tujuan yang jelas, kejadian seperti ini seringkali terjadi pada banyak orang ketika mereka menyampaikan pembicaraannya. Nasehat agar selalu menjaga lidah telah banyak dilupakan orang banyak, mereka baru menyadari ketika ungkapan itu telah menuai masalah dan muncul berbagai komplain, semua itu bisa saja terjadi di lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dalam hubungan persahabatan, komunitas (facebook, WA group, kolom pesan blogger atau berbagai media online lainnya), bahkan mungkin saja pada lingkungan yang lebih luas lagi.

Tidak sedikit orang tampil berbicara dengan menggebu-gebu, tetapi karena persiapan yang kurang matang telah menyebabkan mereka terkena demam panggung, gugup dan menuai kontra bagi pendengarnya, yang akhirnya bukanlah meraup keberhasilan sebagai pembicara yang baik atau mendapat predikat handal dimata pendengarnya, akan tetapi justru malah menuai masalah baik bagi dirinya maupun orang lain.

Rasa malu menghinggapinya karena merasa gagal saat berbicara, merasa malu ini akan berakibat turunnya rasa percaya diri, sedangkan munculnya ketidaknyamanan orang lain karena salah "berbicara" maupun salah "ucap" akan berbuah masalah yang bisa berbentuk pertengkaran, permusuhan dan mungkin pula hanya dapat berakhir dipengadilan.

Nah, menjaga lidah tidak hanya bisa menghindarkan diri dari kesulitan dalam berkomunikasi. Lebih dari itu, berkata dengan hati-hati dan baik dapat pula menjadi sarana yang menghantarkan seseorang masuk kedalam syurga dan selamat dari siksa api neraka.

Diantara keahlian yang baik harus selalu dipelajari agar benar-benar ahli dalam berkomunikasi, berbicara dan berdialog dengan orang lain adalah mengatur kata-kata yang baik, tersusun dan memiliki makna, dalam islam tutur kata yang baik itu menjadi "sedekah", Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

"Kata-kata yang baik adalah Sedekah" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini memberikan pesan agar kita berkata-kata dengan baik dan bernilai manfaat, dengan berkata-kata yang baik jika di niatkan karena Allah akan bernilai pahala sama dengan sedekah! Maka umat islam disarankan agar tidak asal bicara tanpa tahu secara betul makna dan manfaat dari kata-kata yang diucapkannya itu dan memperhitungkan akibat dari pembicaraannya itu. Maka sebaiknya janganlah berbicara berlebihan tanpa adanya kepentingan maupun sebab yang jelas.

Tutur kata dan pembicaraan yang baik memiliki peranan yang sangat penting dalam memelihara hubungan baik sesama manusia, apabila seseorang dapat memelihara lidahnya dengan baik dari ucapan-ucapan yang tidak pantas dan dibenci  atau tidak disukai orang lain dan menggunakan kata-kata yang sopan lagi menyenangkan, hal itu akan menjadi pintu penghubung yang ampuh antara pemikiran dan perasaannya terhadap orang lain

Orang-orang yang telah sukses dalam memelihara hubungan kemanusiaan dengan orang lain meyakini sekali akan adanya "kekuatan kata-kata", mereka menyeimbangkan antara kata-kata yang baik dan sikap serta perilaku yang bijaksana. Lidah mereka senantiasa mengucapkan kata-kata "terimakasih" dan "pujian". Mereka juga tidak lupa menuturkan kata-kata yang baik lagi sopan yang dirindukan semua orang, maka sebaiknya anda tidak mengucapkan sebuah kata-kata sebelum benar-benar siap dengan cara maupun metodenya. Sampaikan ucapan kata-kata yang baik, enak di dengar, menyenangkan dan membahagiakan bagi orang lain.

Selain itu pembicaraan pun harus dilakukan dengan penuh percaya diri dan meyakinkan lawan bicara kita, jika tidak! jangan kaget kalau perkataan itu akan tersampaikan dengan tidak lancar, membingungkan dan lawan bicara kita tidak yakin dengan apa yang telah kita ucapkan, jangankan untuk memahami, mengikuti atau menurutinya, untuk mendengarkannya pun merasa tidak tertarik! 

Contohnya, ketika seseorang berbicara atau berpidato, sesaat sebelum berbicara dia mengeluarkan secarik kertas dari balik sakunya, dalam kertas itu tertulis beberapa catatan penting, akan tetapi karena catatan itu tidak tersusun dengan rapih yang dengan kata lain "acak-acakan", maka ia berpidato secara tersendat-sendat, kaku, sesaat berhenti karena bingung dengan catatan yang tidak tersusun baik itu dan tidak lancar menyampaikan pidatonya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline