Lihat ke Halaman Asli

Ansarullah Lawi

Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi Batam (ITEBA)

Stress Bisa Menular? Fakta Mengejutkan Tentang Efek Stress!

Diperbarui: 1 Mei 2024   08:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: pexels.com | Alex Green

Stres memang telah lama dikenal sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, apa yang sering tidak kita sadari adalah bagaimana stres ini secara tidak hanya mempengaruhi pikiran dan perasaan kita, tapi juga sejauh mana ia mempengaruhi kondisi fisik kita dan bahkan dapat menyebar ke orang lain seperti sebuah penyakit yang menular. 

Menurut Dr. Tara Swart, seorang ahli saraf dan penulis, "Kulit kita tidak berbohong; ia menunjukkan apa yang terjadi di dalam diri kita, termasuk stres." Ketika kita mengalami stres, tubuh kita mengaktifkan apa yang sering disebut dengan 'mode bertahan hidup'. Dalam keadaan ini, tubuh akan memproduksi hormon kortisol. Hormon ini memang berguna dalam jangka pendek, misalnya untuk membantu kita mengatasi situasi darurat. Namun, ketika kita terus-menerus berada dalam keadaan stres, kadar kortisol yang tinggi dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk masalah pada kulit kita. 

Dr. Tara Swart (Sumber: symprove.com)

Dr. Tara Swart adalah seorang dokter medis, penasihat eksekutif, Dosen Senior di MIT Sloan, dan penulis buku terlaris 'The Source' yang telah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa di seluruh dunia. Dia sangat bersemangat dalam menyebarkan pesan-pesan sederhana dan pragmatis berbasis ilmu saraf yang dapat mengubah cara hidup dan cara kerja manusia.

Kulit, sebagai organ terluar yang berinteraksi langsung dengan dunia luar, menjadi sangat sensitif terhadap perubahan hormon dalam tubuh. Kortisol yang terus-menerus dilepaskan bisa menyebabkan kulit kita menjadi lebih berminyak atau kering, dan dalam beberapa kasus, memicu kondisi seperti eksim atau psoriasis. Lebih jauh lagi, karena kortisol dapat dikeluarkan melalui keringat, ini memungkinkan stres 'bocor' dari satu orang ke orang lain. Bayangkan ketika seseorang yang sangat stres berada di sebuah ruangan, tidak mengherankan jika tak lama kemudian, orang lain yang berada di ruangan yang sama mulai merasa tegang dan cemas, meskipun mereka mungkin tidak langsung menyadari penyebabnya.

Penularan stres ini juga dapat dilihat dalam interaksi sehari-hari. Misalnya, jika seorang pemimpin dalam sebuah tim kerja menunjukkan tingkat stres yang tinggi, tidak lama kemudian, anggota timnya pun dapat mulai merasakan tekanan dan kecemasan yang serupa. Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya manajemen stres tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk kesehatan emosional lingkungan sekitar kita.  

"Penularan stres memperlihatkan bahwa kita semua terhubung, tidak hanya melalui kata-kata, tapi juga melalui keadaan tubuh kita," ujar Dr. Swart. Fenomena penularan stres ini bisa dibandingkan dengan bagaimana seorang ibu yang tenang dapat menenangkan bayinya, atau sebaliknya, bagaimana kecemasan seseorang bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Selain berdampak pada kulit dan kesehatan mental, stres juga memiliki efek yang sangat nyata pada komposisi tubuh kita, khususnya pada penumpukan lemak di perut. Kortisol memicu tubuh untuk menyimpan lemak sebagai bagian dari respons stres, yang ironisnya, cenderung terakumulasi di sekitar perut. Lemak perut ini bukan hanya masalah estetika; ia juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi untuk kondisi kesehatan serius seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker. Hal ini membuat pengelolaan stres menjadi sangat penting tidak hanya untuk kesehatan mental kita tetapi juga untuk kesehatan fisik.

Menurut Dr. Swart, "Mengelola stres bukan hanya demi kebahagiaan, tetapi juga untuk kesehatan fisik kita---terutama, perut kita."

Untuk mengelola stres dengan efektif, kita harus pertama-tama mengenali tanda-tanda stres pada diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Ini termasuk perubahan mood yang cepat, kesulitan tidur, perubahan nafsu makan, atau bahkan perubahan pada kondisi kulit. Mengenali gejala-gejala ini dapat membantu kita mengambil langkah proaktif untuk mengurangi dampak stres.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline