Lihat ke Halaman Asli

Andrea AureliaCrysanta

Communication Science Student

Menyelamatkan Jurnalisme yang Terkena Zaman Serba Digital bersama Kompas.id

Diperbarui: 22 April 2020   16:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. Kompas.id

Jurnalisme memiliki tantangannya sendiri saat bertemu dengan era digital. Lalu bagaimana kiat dari tim Kompas.ID dalam tetap mempertahankan standar jurnalisme nya?

Tepat satu minggu yang lalu pada tanggal 15 April 2020 saya berkesempatan mengikuti kuliah daring bersama narasumber primer dari Kompas.id yakni Bapak Haryo Damardono yang akrab dipanggil Pak Haryo, selaku Deputy Managing Editor at Kompas Daily Newspaper. 

Seperti yang kita ketahui, Kompas merupakan salah satu perusahaan berita ternama di Indonesia. Kancah nya dalam perjalanan jurnalistik di Indonesia sudah bukan main. Tapi ternyata perusahaan sekuat Kompas pun ikut merasakan dampak dari konvergensi media yang memindahkan platform media konvensional ke digital. 

Tidak jauh-jauh permasalahan yang dihadapi dari efek konvergensi media antara lain mempertahankan kualitas standar jurnalisme dan ranah bisnisnya. Pak Haryo mengatakan bahwa perlu ada yang menyalamatkan hidup jurnalisme koran Harian Kompas. Maka dibangunlah Kompas.id. 

Bagi teman-teman yang belum mengerti apa itu Kompas.id, ini merupakan platform perpanjangan tangan dari koran Harian Kompas yang dapat diakses secara digital sehingga kontennya pun tidak jauh berbeda dari Harian Kompas. Perlu diketahui bahwa Kompas.id berbeda dengan Kompas.com karena memiliki tim yang berbeda. 

Kompas.Id dikerjakan sendiri oleh wartawan Harian Kompas. Perbedaan yang paling nampak dapat dilihat dari isinya adalah berita yang ada di koran dengan strandar tulisan berita koran, berbeda dengan yang bisa kita baca di kompas.com. 

Menyambung gagasan harus ada penyelamat hidup jurnalisme koran kompas, ternyata Kompas.id mampu mempertahankan eksistensi koran kompas. Namun tantangan yang kemudian paling dirasa adalah kualitas berita dan bisnis. 

Aplikasi Kompas.Id yang dapat diungguh melalui aplikasi App Store /dokpri

Halaman e-Paper Harian Kompas di aplikasi Kompas.Id / dokpri

Saat jurnalisme masih konvensional, tuntutan bagi satu orang karyawan tidak sebanyak saat jurnalisme multimedia lahir. Pak Haryo mengatakan bahwa dulu wartawan boleh hanya menguasai satu bidang seperti menulis saja, siaran saja dll. Kemampuan ini mengacu pada kepemilikan perusahaan kompas yang waktu itu memiliki majalah Intisari, koran Kompas, radio dan lain sebagainya. Namun saat ini semua kemampuan itu menjelma ke satu mausia artinya wartawan dituntut harus bisa semua. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline