Lihat ke Halaman Asli

Medellin, Dulu Sarang Narkoba, Kini Contoh Perencanaan Kota

Diperbarui: 2 Januari 2016   15:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Siapa yang tidak pernah dengar nama Pablo Escobar, seorang bandar narkoba terbesar di Dunia yang namanya legendaris di kancah dunia. Bahkan amerikapun sampai turun tangan untuk mengakhiri drama pengedaran narkoba yang dibuat olehnya. Nah, Pablo Escobar ini menduduki Kartel Narkoba Medellin yang merupakan permukiman kumuh di perbukitan yang ada di Medellin.

[caption caption="Bagian Eskalator di Comuna 13"][/caption]Masalah urbanisasi yang ada di kota-kota besar dunia tak pelak juga dirasakan oleh penduduk Medellin. Kemiskinan akibat ketiadaan pekerjaan yang dapat sustain dan menghasilkan uang banyak menyebabkan mereka berbisnis barang haram. Namun siapa sangka, daerah yang dahulu sering di identikan dengan perkelahian antar geng dan juga pengedaran narkoba internasional memanfaatkan Bandar Udara Internasional José María Córdova sebagai pintunya. Kini malah menjadi salah satu contoh Urban transformasion yang ada di dunia.

[caption caption="Kawasan Comuna 13 dan eskalator yang menghubungkan lereng bukit dengan Comuna 13"]

[/caption]Pemerintah Medellin melakukan pendekatan secara terintegrasi dalam memudahkan masyarakat Medellin untuk bermobilitas. Salah satunya dengan hadirnya eskalator di permukiman kumuh Comuna 13. Pemerintah merasa, jika daerah-daerah terisolasi akan sangat rawan terhadap perdagangan narkoba dan perkelahian antar geng. Sebelum adanya eskalator sepanjang 384 meter di sana. Untuk mencapai Comuna 13 masyarakat harus mendaki bukit yang curam setara 28 lantai rumah, kendaraan pribadipun tidak bisa menjangkau Comuna 13.Terbayang sendiri bagaimana capeknya untuk mencapai Comuna 13.

[caption caption="Sebelum adanya Eskalator, terbayang capeknya mendaki tangga seperti ini"]

[/caption]Kini untuk mencapainya, hanya perlu melewati 6 bagian eskalator untuk mencapai bagian atas Comuna 13 dengan waktu 6 menit. Eskalator tersebut dibangun tahun 2011. Fasilitas inipun dapat digunakan secara gratis oleh seluruh masyarakat, dengan jangka waktu penggunaan dari pukul 6 pagi - 10 malam. Eskalator ini juga terintegrasi dengan fasilitas angkutan umum lain, yaitu metrocable.

Sejak saat itu tidak pernah ada laporan tentang tindakan kriminal ekstrim di kawasan tersebut. Bahkan masyarakat sangat suka untuk berjalan-jalan menggunakan eskalator dan kemudian mengakses bagian kota Medellin yang lain dengan bahagia dan nyaman.

[caption caption="Tetap ada penjagaan dari militer setempat, untuk menjaga keamanan karena daerah ini bekas daerah kriminal"]

[/caption]

Selain itu, terdapat pula Metrocable, aerial mono-cable gondola yang menghubungkan antar pusat-pusat komunitas (Comuna yang lain), klinik kesehatan, kawasan pendidikan, fasilitas kepemudaan, serta perpustakaan yang terletak di stasiun transfer utama dari jaringan metrocable.

[caption caption="Metrocable di Medellin"]

[/caption]

Selain metrocable, terdapat juga Metrostop istilah untuk stasiun kereta listrik yang menghubungkan ke seluruh penjuru Kota Medellin. Untuk mengakses kereta listrik dan juga Metrocable secara terintegrasi, mpenumpang hanya dikenai tarif 1800 peso atau sekitar 7800 rupiah yang dapat dimanfaatkan untuk menumpang kemanapun selama 90 menit perjalanan. Sangat murah.

[caption caption="Metrostop, Stasiun Kereta Listrik penghubung antar lokasi di Medellin"]

[/caption]

Dahulu, Integral Urban Project sendiri dikritik oleh para akademisi dan juga organisasi penelitian, mereka menganggap bahwa masyarakat sebenarnya tidak butuh sebuah ekskalator, mereka butuh keamanan untuk menjangkau fasilitas dan ketenangan hidup, dengan misalnya memberikan $ 5.500.000 (yang merupakan biaya proyek eskalator) kepada 12.000 orang di Comuna 13 agar mereka bisa memperbaiki kehidupan ekonomi mereka. Tetapi pemerintah dan arsitek bertindak tepat dengan membangun eskalator sebagai kepraktisan untuk menjangkau daerah kumuh terisolasi di atas bukit.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline