Lihat ke Halaman Asli

Amas Mahmud

Pegiat Literasi

Ketika Duet Anies-Gibran Vs Ganjar-Puan

Diperbarui: 21 Januari 2022   11:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Anies Baswedan dan Gibran (Dokpri)

SOSOK Anies Rasyid Baswedan yang kini berkapasitas sebagai Gubernur DKI Jakarta disebut sebagai "Kadrun". Stigma politik yang cukup riskan. Sarkastik dan membunuh karakter tentunya. 

Walau disatu sisi, Anies akan panen karena mendapat dukungan dari mayoritas umat Islam. Politik identitas, sepertinya disematkan lawan politik Anies kepada dirinya.

Kadrun yang diidentifikasi sebagai kelompok kanan memang secara politik di Indonesia tak bisa kita abaikan pengaruhnya. Soliditasnya cukup kuat. Mereka adalah kelompok politik yang terlahir dari persaudaraan Alumni 212. Faksi rakyat yang pernah mencetak sejarah menggelar aksi massa paling damai di dunia itu memunculkan tokoh-tokoh populis.

Lawan dari Kadrun adalah "Cebong". Seperti itulah satire politik di Sosmed. Cebong ditafsir sebagai kelompok pendukung pemerintah. Atau Cebong yang menempatkan dirinya sebagai kelompok penjaga Pancasila. Mereka yang merasa diri paling berjasa membela Pancasila. Benarkah Pancasila perlu dibela?. Begitu pula dengan kelompok pembela agama.

Apakah agama juga perlu pembelaan dari umatnya?. Publik tentu punya jawaban masing-masing dari dua pertanyaan standar di atas. Lanjut ke soal Pilpres 2024, dalam nalar politik saya yang nakal jika duet Anies - Erick Thohir dipertemukan. Ini sangat dahsyat. Tapi lebih super power lagi ialah koalisi Anies - Gibran Rakabuming Raka.

Bakal mencair dan menyatu semua sentimen dalam gerbong politik tersebut. Kadrun dan Cebong secara suka rela, terpanggil untuk bersatu dalam kendaraan koalisi besar tersebut. Dapat disebut duet Anies - Gibran sebagai koalisi menyelamatkan Indonesia. Tidak mudah, tapi yang namanya politik selalu ada alternatif. Semua bisa terjadi sejauh ada komunikasi politik yang dirintis.

Anies - Gibran akan menjadi pemenang. Bahkan varian pengganggu Gibran seperti laporan dugaan pencucian uang yang dilayangkan Ubedilah Badrun akan terhenti. Semua upaya menguatkan Anies - Gibran pasti lambat lain menjadi kekuatan yang terkonsolidasi kuat. Pembelahan politik tidak akan terjadi lagi.

Proses mendamaikan pertarungan kepentingan "kanan dan kiri" terlaksana. Konflik yang sepertinya dirawat yakni konflik politik Cebong vs Kadrun mendapat solusi. Berpotensi melahirkan ruang rekonsiliasi politik yang terang-benar. Bukan lagi perdamaian politik yang palsu dan samar-samar. Anies - Gibran bisa menjadi simbolisasi perdamaian.

Kekuatan yang mendekati suara Anies - Gibran ialah jika terjadi perubahan fundamentel. Lalu dilahirkan poros Anies - Erick. Ini juga spesi koalisi yang keren dan hebat. Anies - Erick bisa memenangkan pertarungan jika berhadapan dengan Ganjar - Puan.

Mereka bisa mengalahkan kandidat Capres dan Cawapres lainnya. Kalau membaca grafik dan hasil Lembaga Survei sementara, Capres yang kuat, mendapat dukungan tinggi adalah Prabowo, Ganjar, lalu Anies pada posisi ketiga.

Jika Anies dan Erick Thohir duet di Pilpres, Ganjar - Puan Maharani ketar-ketir. Maka kompetisi politik kita makin kencang gemuruhnya. Menurut saya Pilpres 2024 diusahakan untuk lahir dua pasang Capres saja. Usaha keras melahirkan head to head sedang dibelah kekuatan politik ketiga di Indonesia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline