Lihat ke Halaman Asli

Amak Syariffudin

Hanya Sekedar Opini Belaka.

Ketika Kenal Jakob Oetama: Wartawan dan Filsuf

Diperbarui: 13 September 2020   10:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Visual Interaktif Kompas (VIK): Jakob Oetama, The Legacy. (Kompas/Jitet Koestana)

MESKIPUN sudah lewat beberapa hari sejak beliau wafat, namun kenangan di hari-hari pertama dan selanjutnya yang tak terlupakan ini saya gali demi menghormatinya selaku rekan almarhum dalam profesi maupun kekerabatan.

Saat itu, kami, para wartawan delegasi yang terdiri dari pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari hampir seluruh Nusantara, sedang menunggu di lobby dan bersiap-siap memasuki ruang sidang guna menghadiri Kongres Luar Biasa PWI (KLB-PWI, November 1965). Sebulan setengah usai pemberontakan Gerakan 30 September 1965/PKI yang digagalkan TNI-AD. 

KLB diselenggarakan di gedung Press Centre, di sebelah utara Hotel Indonesia (kini jadi toko/mall). Tiba-tiba pintu depan lobby itu terbuka. Muncul P.K. Ojong, dengan langkah mantap memasuki lobby. Dibelakangnya diiringi lelaki yang berjalan agak membungkuk sambil tersenyum memandang keliling pada orang-orang yang berada disitu.

"Saudara-saudara! Saya kenalkan saudara Jakob Oetama, pemimpin redaksi yang baru koran kami, Kompas!" ujar Ojong lantang seperti kebiasaannya bila harus bersuara keras. 

Sambil mempersilakan lelaki yang ada di sampingnya itu, Ojong, penerbit dan pemimpin umum surat kabar besar Keng Po yang dilarang Komando Operasi Keamanan & Ketertiban (Kopkamtib) dan berganti menjadi harian 'Kompas' dibawah naungan Partai Katolik, sambil tertawa-tawa memperhatikan Jakob Oetama menyalami kami yang hadir di situ.

Itulah pertama kalinya kami, para wartawan pengurus PWI Cabang dan sebagian Perwakilan se Indonesia yang bisa hadir di Jakarta pada kondisi tersebut mengenal sosok Jakob Oetama. 

Lelaki asal Borobudur, Magelang (Jawa Tengah). Kisah dirinya yang terhembus, pria protolan Sekolah Kepastoran itu membelot memasuki Jurusan Publisistik FISIP (kemudian menjadi Fak. Komunikasi) Universitas Gadjah Mada Jogjakarta sehingga batal jadi rohaniawan karena tertarik menjadi wartawan. 

Nyatanya, begitu harian Kompas dipercayakan untuk dipegangnya, dapat berkembang menjadi harian yang utama di pelataran media massa Indonesia. Sejak berkuliah dia dikenal sesama rekan kuliahnya sebagai penekun buku-buku pengetahuan, selain tentang ilmu komunikasi dan jurnalistik juga ilmu filsafat dan lulus sebagai sarjana-publisistik  bernilai baik.

KLB PWI yang berkeputusan memecat ketua umum Karim DP dan sekjennya Satyagraha serta beberapa anggota pengurus yang kesemuanya tersangkut kegiatan PKI dan organisasi-organisasi kaitannya, mendudukkan ketua umum baru, H.Mahbub Djunaidi (pemimpin redaksi harian Duta Masyarakat milik Partai NU).

Jakob Oetama tahun kemudiannya ditarik kedalam Kepengurusan PWI Pusat karena peranan medianya. Pada saat-saat itulah saya berada dalam aktivitas PWI Pusat selaku instruktur/pelatih pendidikan pada Karya Latihan Wartawan (KLW) bagi para anggota PWI se Indonesia. 

Mengenal beliau lebih dekat berlangsung ketika diadakan Konferensi Kerja Nasional (Konkernas 1969) PWI se Indonesia di kompleks Pesanggerahan Kinilow, lereng kawah Gunung Lok Sukon, antara kota Manado-Tondano. Kamarnya berdampingan dengan kamar saya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline