Lihat ke Halaman Asli

Alvin Wahyu Kurnia

Menulis untuk Belajar, Bukan Menulis untuk Menggurui

Review Buku "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat"

Diperbarui: 30 Juli 2021   05:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

tangkap layar dari ecommerce

Buku yang ditulis oleh seorang Blogger Swadaya yang berasal dari Austin Texas ini merupakan salah satu buku yang bertengger di daftar buku terlaris The New York Times di posisi keenam. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh percetakan HarperOne dalam versi asli, sebuah divisi dari HarperCollins Publishers, kemudian rilis pada tanggal 13 September 2016. 

Kemudian pada Januari 2019, lebih dari 3 juta salinan buku telah terjual. Sedangkan versi bahasa indonesianya yang berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik, dirilis sejak februari 2018, terbit pertama kali oleh PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), dalam satu tahun pertama (2018) sejak terbitnya, buku ini telah dicetak ulang sebanyak 14 kali.

Menurut saya, Mark Manson sangat cerdas sekali dalam menyajikan buku ini, disamping motivasinya yang tidak biasa, bahkan bisa dibilang telah menentang buku-buku motivasi yang telah saya baca sebelum-sebelumnya, yang menurut saya hal itu sarat akan motivasi yang menggebu-nggebu, tetapi hilang jika keadaan tidak berjalan semestinya. 

Tetapi Manson telah berhasil membuat pembaca sadar, bahwa yang kita pelajari dan baca selama ini meskipun umum, tetapi tidak bisa diterapkan pada segala situasi, sehingga menurut saya, buku ini sangat cocok sekali dibaca untuk anda yang sedang mencari buku-buku self improvement tetapi yang enak dan materinya sangat dalam, serta tidak hanya motivasi-motivasi semu saja yang diutamakan, tetapi di dalam buku itu, kalian akan menikmati setiap bab nya yang tidak biasa sehingga membaca nya berulang-ulang pun tidak akan bosan, saya jamin.

Buku ini dibuka dengan sebuah sub judul yang tidak biasa, yang menurut saya sedikit aneh, karena mungkin "motivasi tidak akan pernah bilang seperti itu" pikir saya, setelah membaca bab 1 nya, saya baru menyadari bahwa Manson menyuruh kita untuk tidak berjuang, hal itu diambil kisah dari seorang penulis terkenal pada masanya, yaitu Charles Bukowski, dimana sebelum menjadi penulis terkenal, dirinya merupakan sosok pribadi yang selalu menjadi dirinya sendiri, tidak tahu apakah dia adalah seorang pecundang yang selalu berganti-ganti pasangan seks, pemabuk kronis serta hidupnya tidak umum dan selalu berbuat keburukan, meskipun sesaat setelah dia terkenal, hal itu tidak bisa merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik, karena hal itu adalah dirinya.

www.pbs.org

Buku ini menurut saya tidak hanya mengajari kita bagaimana caranya menjadi seseorang yang bodo amat terhadap segala hambatan yang mengganggu proses pencapaian sukses kita, tetapi juga bodo amat dengan segala hal yang dirasa kurang penting, dan seharusnya ditinggalkan. 

Seperti saat ini, kita dihadapkan pada situasi dimana segala kemewahan, kebahagiaan serta hal-hal yang membuat mata iri atau ingin seperti orang lain, sudah sangat banyak dan umum di sosial media, kita jadi tidak bahagia karena selalu merasa kurang dan tidak bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, karena terlalu banyak disuguhkan dengan hal-hal yang berbau keduniawian yang suatu saat juga akan hilang. 

Manson juga memberi pesan di dalam buku ini, bahwa apapun dirimu sekarang, kalian bisa bahagia dan fokus dengan apa yang telah kalian miliki, caranya dengan selalu bersikap bodo amat dengan segala pencapaian dan kesuksesan orang lain yang nyatanya, orang lain bukanlah kita. Kita harus fokus terhadap hal-hal yang bisa membuat diri kita bahagia dan bersyukur dengan hidup, agar hidup bisa memberikan apa yang tidak diberikan orang lain kepada kita.

Seseorang juga tidak akan selalu bisa bersikap positif terus menerus dalam situasi apapun itu, karena sejatinya manusia adalah manusia yang selalu gampang terpengaruh oleh pemikiran lingkungan, atau bisa juga terpengaruh persepsi negatif yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. 

Manson mengajarkan bahwa kita harus bisa menerima segala hal kenegatifan yang terjadi, sembari tetap membawa mimpi kita dan berjalan bersama rasa negatif tersebut sebagai bahan bakar seseorang menghadapi segala ketidakmungkinan peristiwa yang akan terjadi di depan. Rasa negatif adalah rasa yang bisa dijadikan rasa positif jika kita bisa mengambil sebuah pelajaran di setiap kejadiannya, sebaliknya, rasa positif adalah rasa negatif seseorang jika tidak bisa mengambil pelajaran di setiap kejadiannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline