Lihat ke Halaman Asli

Sayyid Jumianto

Menjadi orang biasa yang menulis

Kemarau di Hatimu

Diperbarui: 3 September 2021   17:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lyfe. Sumber ilustrasi: FREEPIK/8photo

Kemarau di hatimu

Sayyid Jumianto

September 2013, di Kokap, Kulon progo

Setelah lama ku bergumul di Semarang, saatnya aku menemukan lagi jati diriku.
Waktu seakan memburuku untuk kembali ke Jogja.

Bukan harapan indah namun perjuangan hidup yang nyata.

"Dharma bhaktimu kami perlukan, walau"
Desir hati ini mendengar kata terakhir, walau, aku sudah bisa menebaknya
"Walau gaji masih kami perjuangkan"

Hidup masih berjuang bertahun aku nikmati
Hanya daun-daun jati kering jadi saksi bisu perjalanan ini.

Semua guru honor akan diangkat
Serasa horor
Dimasa pergantian penguasa
Sekedar pemanis kampanye, lalu dilupakan

"Dulu di kokap selalu terlanda kekeringan tetapi kami berusaha" kata tetua desa

Bak tandon semen jadi saksi, semua dulu memanen hujan
Karena sangat berarti bagi mereka
Jelas ketika Waduk sermo yang beraroma air mata itu diresmikan
Semua terharu

Ember besi,
Klenting
Galon
Tersingkir pam

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline