Lihat ke Halaman Asli

Alin You

Penyuka fiksi, khususnya cerpen dan novel.

[Serial Noval] Barongsai Koh Asui

Diperbarui: 23 November 2019   17:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: thestar.com.my

Penolakan itu sungguh menyakitkan, Jenderal. Bukan hanya penolakan terhadap cinta, tapi apapun itu yang bernama penolakan sungguhlah menyakitkan. Seperti yang kualami kemarin. Saat seorang gadis belia menolak untuk kujadikan anak angkat dengan alasan dia tak mau lagi berurusan dengan ayah kandungnya sendiri.

Ya, Tuhan. Aku bermaksud mengangkatnya sebagai anak juga semata-mata agar sang gadis terbebas dari kejaran sang ayah tapi juga sama sekali tak melupakan pendidikannya. Amat disayangkan bila Sumirah--nama gadis itu--harus kehilangan masa-masa sekolah dan remajanya hanya karena mengalami rasa trauma terhadap sang ayah yang boleh kubilang brengsek itu. Tapi ya, mau gimana lagi. Aku pun tak bisa memaksakan kehendakku bilamana gadis itu menolaknya, bahkan dengan gelengan dan isak tangis yang berulang kali. Membuatku pasrah dan akhirnya memilih pulang ke kontrakan yang dari kemarin belum sempat kujajahi.

***

Hari telah menunjukkan pukul tujuh malam saat aku tiba di kontrakan. Dan setelah memarkirkan Estilo putih di depan kontrakan, aku pun bergegas masuk ke dalam sambil tak lupa mendorong koper dan berbagai buah tangan yang dipaksa bawa oleh Bi Isah sebagai oleh-oleh dari Karawang. 

Sesaat sebelum masuk ke dalam kontrakan, kuperhatikan rumah kontrakan sebelah tampak sepi. Sepertinya si pemilik rumah belum pulang. Entah belum pulang dari pabrik atau mampir dulu ke mana dulu. Yang pasti mah belum sampaikontrakan. Sudah, gitu saja. Nanti juga bila si pria romantis itu tahu aku sudah pulang, dia bakal bertandang ke rumahku.

"Alhamdulillah. Akhirnya gue bisa kembali menghirup aroma rumah kontrakan gue lagi. Ya, walaupun tidaklah sebesar rumah Aki, tapi setidaknya gue merasa lebih bebas ngapa-ngapain di sini. Bahkan, untuk tidur seharian pun tak ada yang protes seperti Bi Isah. Hehehe."

Sambil selonjoran di atas karpet dan menyetel televisi, aku pun sibuk membongkar kardus yang berisi aneka buah tangan yang dibungkuskan Bi Isah khusus untukku. Ya ampun, isinya banyak betul, padahal aku hanya tinggal sendiri di sini. Isi kardus itu ada rangginang, ranggining, kembang ros, opak, kue telur gabus, rempeyek kacang dan teri juga ada. Ah, oleh-oleh sebanyak ini buat siapa coba?

"Biarin atuh, A. Kan bisa buat H. Sodiq, yang punya kontrakan. Trus, bisa juga dibagikan ke teman-teman kontrakan dan kantornya Aa Noval." Begitulah pesan Bi Isah saat aku menolak untuk dibawakan oleh-oleh.

"Hahaha... Dibagikan ke teman-teman kontrakan?" Aku jadi ingin tertawa ngakak deh. "Masak aja mereka gak pernah. Kompor gas juga gak ada. Pegimane mo menggoreng kerupuk-kerupuk ini? Ah, Bi Isah mah aya-aya wae."

Tapi, ya sudahlah. Akhirnya kupisah-pisahkan juga oleh-oleh mana yang untuk H. Sodiq, Mr. Philips, Rahma dan beberapa staf di kantor. Untuk teman-teman kontrakan, biarkan saja mereka makan ramai-ramai di sini. Kebetulan di kontrakanku ada kompor dan beberapa alat masak. Ya, gini-gini juga aku kadang suka masak sendiri. Bahkan, Hendra pun mengakui kalau nasi goreng buatanku itu numero uno untuk lidahnya daripada nasi goreng yang biasa mangkal di depan gang H. Sodiq. 

Ya, begitulah H. Sodiq. Saking banyaknya jumlah kontrakan miliknya yang tersebar di sepanjang gang, akhirnya gang inipun berubah nama menjadi gang H. Sodiq.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline