Lihat ke Halaman Asli

Mustafa Kamal

TERVERIFIKASI

Seorang akademisi di bidang kimia dan pertanian, penyuka dunia sastra dan seni serta pemerhati masalah sosial

Pesan Misterius Bung Hatta

Diperbarui: 23 Agustus 2015   17:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Siapa yang tak kenal Bung Hatta? Ya, beliau adalah proklamator bangsa ini bersama Soekarno. Tokoh Nasional asal Bukittinggi, Sumatera Barat ini dikenal sebagai tokoh yang sederhana, jujur, bijaksana, cerdas dan punya sejuta ide cemerlang. Makanya tak heran legendaris Iwan Fals  mengabadikan namanya dalam sebuah lagu berjudul "Bung Hatta".dengan lirik yang membuat banyak orang menitikkan air mata bila mendengarnya.

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta...
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia...

Reff :
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi...
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu...
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas... jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu...

Bapak bangsa ini meninggal pada tanggal 14 Maret 1980. Sudah 35 tahun berlalu. Namun ada pidato terakhir beliau yang hingga kini tidak banyak orang yang paham maknanya.

Pidato terakhir menjelang wafatnya beliau sampaikan di hadapan ribuan warga Batu hampar kabupaten 50 kota, Sumatera Barat. Alkisah, sebelum menutup pidatonya beliau berpesan kepada seluruh masyarakat yang hadir" Tanamlah kelapa. Kelapa yang ada sudah tua, tak berminyak lagi. Supaya dapat mengambil hasilnya yang lebih baik, tanamlah kelapa kini-kini. Kelapa yang berumur muda akan lebih baik, lebih banyak minyaknya dan buahnya pun akan lebih lebat”.

Apa yang disampaikan Bung Hatta ternyata cepat sekali direspon oleh perangkat Nagari. Mereka memaknainya secara lahiriah bahwa Bung Hatta berpesan agar penduduk menanam banyak pohon kelapa muda, karena kelapa dikampung mereka sudah tua-tua. Tak berapa lama di setiap nagari penduduk mulai menanami banyak pohon kelapa di kebun dan ladang mereka. Tapi, apakah benar itu yang dimaksud Bung Hatta?

Usut punya usut ternyata nasehat seperti itu sering diucapkan Bung Hatta setiap berkunjung ke nagari-nagari di Ranah Minang. Dan baru beberapa tahun belakangan ini terungkap apa yang sebenarnya disampaikan Bung Hatta. Ya, kini kita melihat bahwa kiprah orang Minang di Negera ini mulai dikatakan sudah berangsur-angsur pudar bahkan boleh dikatakan "punah ranah". Lihat saja di Kabinet Jokowi -JK hanya menyisakan Rizal Ramli, yang baru saja dilantik. Sebelumnya juga hanya satu Adrinof Chaniago pemikir brilian yang tak punya kekuatan politik yang pada akhirnya dipecat Jokowi walau mereka sahabat karib.

Walau Wakil Presiden Jusuf Kalla pada suatu kesempatan di Padang pernah berseloroh bahwa perempuan-perempuan Minang adalah wanita hebat karena telah mampu mengantar suami-suaminya menjadi menteri-menteri di Kabinet Jokowi sehingga lahir "PSSI" alias Persatuan Sumando Seluruh Indonesia" sebab banyak menteri di Kabinet Jokowi sekarang beristrikan orang Minang seperti selain Jusuf Kalla sendiri yang istrinya asal Lintau, Sumatera Barat, lalu ada Menteri Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rakyat Basuki Hadimoeljono. Basuki istrinya berasal dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Juga ikut ikut Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Yuddy Chrisnandi dan Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan, yang istrinya juga asal Sumatera Barat. kemudian ada lagi menteri Lukman dan Rudiantara yang istrinya juga orang Minang. Tapi itu tentu tidak cukup mengobat hati akan hilangnya kiprah orang minang sekarang ini.

Kita Ingat orang Minang pernah punya tokoh seperti Bung Hatta, Sutan Syahril, Muhammad Yamin, Natsir, Buya Hamka, dan masih banyak lagi yang berkiprah besar dalam melahirkan dan membesarkan bangsa ini.  Tapi semenjak tokoh-tokoh itu pergi orang Minang makin terpinggirkan dan tersisih. Mereka kalah saing dari putra-putra daerah lain yang lebih baik. Apa penyebabnya?

Jawabannya ada pada pesan terakhir Bung Hatta tersebut. Makna dari pidato yang berulangkali beliau ucap tersebut adalah beliau berpesan agar orang Minang mendidik anak-anaknya, menyekolahkannya hingga ke perguruan tinggi agar kelak bisa menjadi pemimpin untuk menggantikan beliau yang sudah tua ini. Sebab orang-orang Minang yang pernah menjadi tokoh besar di negeri bernama Indonesia ini adalah mereka-mereka yang terdidik dan bersekolah tinggi.

Ya, sebagian orang minang hingga akhir dekade 80-an memang kentara kali perubahan budayanya, kebanyakan mereka baru sudah pandai baca tulis setamat sekolah menengah sudah pergi merantau, berdagang, ke seantero Nusantara bahkan dunia mengejar materi. Hanya sebagian yang masih meneruskan budaya merantau menuntut ilmu seperti Hatta dan tokoh-tokoh sezamannya. Hal ini lah yang dibaca oleh Bung Hatta dan menggelisahkan hatinya. Padahal dulunya Sumatera Barat ini adalah pabriknya orang berilmu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline