Lihat ke Halaman Asli

Ahmad Sahidin

Alumni UIN SGD Bandung

Jalan Ruhani Sang Nabi

Diperbarui: 16 Juni 2022   09:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Sejarah mengisahkan bahwa Sang Nabi Muhammad Rasulullah saw untuk dapat mengubah masyarakat Arab harus menempuh waktu 23 tahun (13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah).

Selama itu pula muncul berbagai tantangan dan hambatan dialami kemudian dihadapi sembari tetap berpegang pada tali Allah. Hasilnya dari waktu 23 tahun itu Islam dan ajaran Rasulullah saw terus hadir kemudian masuk ke berbagai pelosok dunia. Hasil yang luar biasa yang dilakukan Rasulullah saw pastinya ada proses pendahuluan sebelum masuk pada upaya-upaya mencerahkan dan mengubahnya sehingga berhasil terwujud.

Apa yang dilakukan sosok Nabi Muhammad saw sebelum menjadi Rasul Allah? Sejarah mengisahkan dia hidup dalam kondisi yatim dan piatu. Keadaan tanpa sandaran orang lain (orangtua) ini sebetulnya mengondisikan Sayid Muhammad agar menjadi manusia mandiri dan mampu melangkah hidup dengan hati dan pikiran yang jernih. Kemudian berinteraksi dengan orang lain dan hidup bersama keluarga besar dengan masalah-masalah yang kompleks, tentu ini mengondisikan jiwa dan kepekaan sosialnya yang kelak akan berfungsi dalam mengarahkan masyarakat.

Sayid Muhammad belajar dari sang bunda yang membawanya berziarah kepada makam ayahnya. Darinya Sayid Muhammad belajar untuk menghubungkan dirinya dengan asal-usul dirinya dan keluarganya, mengingat sejarah, dan betapa pentingnya peran masa lalu dalam memberi petunjuk bagi manusia selanjutnya.   

Sama dengan para Nabi sebelumnya, Sayid Muhammad mengembala hewan ternak yang secara tidak sadar merupakan penyiapan untuk mengendalikan gembalaan yang lebih besar: umat Islam.

Kemudian dari masa asuhan sang kakek, Sayid Muhammad belajar menjadi manusia yang tegas dan bagaimana memimpin masyarakat. Sang kakek dikenal sebagai pemimpin dan dihormati orang Makkah. Sang kakek juga memberikan pelajaran berharga betap berharganya memiliki cinta terhadap sesama umat manusia dan mengajari untuk mahir dalam memilih atau menentukan jatuhnya amanah (pengurusan Ka'bah dan cucunya: Sayid Muhammad).

Lalu dari sang paman, Sayid Muhammad belajar mengendalikan hidup, menghadapi masalah yang berkaitan dengan lingkungan dan musuhnya, tetap teguh dalam jalan yang benar, dan berkorban walau nyawa menjadi taruhan. Juga dari sang istri: Khadijah binti Khuwailid, belajar arti cinta dan pengorbanan harta benda serta pembelaan yang didasarkan cinta dan kebenaran (agama) yang diyakininya.

Ketika bersama sang istri ini pula Sayid Muhammad meluangkan waktu untuk tafakur, memikirkan masalah yang melingkupi masyarakat dan berupaya mencari solusinya. Kemudian supaya fokus dalam mencari solusi dicari tempat tersendiri. Gua Hira yang kemudian dipilih Sayid Muhammad. Sembari menjalani masa khalwat: perenungan untuk mendapatkan pencerahan, tidak lupa juga untuk melakukan aktivitas keseharian (ibadah, bisnis, makan, minum, dan bercengkrama dengan keluarga). Jelas tidak seluruh waktunya dihabiskan dengan khalwat, tetap diatur sedemikian rupa diseuaikan dengan kebutuhan dan kewajibannya.

Usai pemenuhan kewajiban, kembali tafakur dan puncaknya pada usia 40 tahun: Allah menurunkan wahyu. Masa ini disebut bi'tsah, kebangkitan (menjadi Sang Nabi). Sang Nabi mendapat tugas Ilahi untuk menyebarkan risalah (Islam) sebagai panduan yang akan menyelamatkan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. Wahyu demi wahyu kemudian turun: mencerahkan Sang Nabi, keluarga, dan masyarakat.

Di tengah perjalanan menyebarkan risalah Ilahi, Sang Nabi diundang ke hadirat-Nya: isra mi'raj. Kemudian dikuatkan dengan hikmah-hikmah selama menempuhnya. Lagi-lagi pencerahan Ilahi mengalir. Masa inilah Sang Nabi masuk fana fillah. Dari kondisi ini Sang Nabi sadar masih memiliki tugas yang belum tuntas. Sang Nabi kembali untuk mencerahkan keluarga, sahabat, dan masyarakat.

Bertemu dengan Allah dalam peristiwa isra mi'raj dapat disebut bagian dari ma'rifatullah dan kebersatuan dengan Allah (fanafillah), yang oleh para sufi dicita-citakan terjadinya. Mereka menganggap yang demikian merupakan tahapan akhir dari perjalanan ruhaniah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline