Lihat ke Halaman Asli

Ahmad Aunullah

Pelaku Wisata

Konsep R&R dalam Wisata Mewah

Diperbarui: 5 Desember 2019   23:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber : www.NewZealand.com/luxury

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh perkembangan yang sedang hangat dibicarakan oleh beberapa media online beberapa hari ini serta perkembangan dari rencana Pemerintah itu sendiri yang akan menjadikan Labuan Bajo menjadi destinasi wisata Super Premium ( sebelumnya Destinasi Wisata Premium).

Beberapa artikel saya baca terlebih setelah adanya pergantian kata dari premium ke super premium yang menambah keinginan tahuan saya terhadap rencana apa yang sedang digodok untuk Labuan Bajo ini, dan setelah membaca dibeberapa media online tersebut saya lebih cenderung melihat adanya gambaran untuk menciptakan sebuah ke eksklusifan seperti pembatasan jumlah wisatawan melalui kuota dimana hal ini justru menambah lagi keinginan tahuan saya .

Dalam tulisan saya terdahulu, saya sebutkan perbedaan antara wisata premium dan wisata mewah dimana wisata premium berfokus kepada layanan sedangkan wisata mewah pada layanan dan destinasi.

Segmentasi pasar dalam wisata bukan untuk membatasi melainkan justru memisahkan antara segmen, namun bila kita berbicara wisata mewah, wisatawan dikelompok ini terpisah bukan lagi dipisahkan, tidak hanya dari segi layanan tapi dari segi destinasi atau bisa tempat mereka menginap.

Pemisahan segmen dalam wisata dapat diberlakukan dalam layanan dan destinasi karena kedua hal tersebutlah yang memang menjadi pembeda dalam segmentasi wisatawan dalam wisata bukan dengan menerapkan kuota atau lebih parahnya mengatur jadwal wisatawan di setiap segmen untuk berkunjungnya dimana akan terdengar aneh bila kita yang menentukan kapan orang bisa berkunjung hanya karena kita tidak berada disegmen yang sesuai skedul dengan jadwal keberangkatan kita.

Bali bisa menjadi contoh untuk kita melihat pembedaan ini dengan kawasan nusa dua dimana semua hotel disana tidak bercampur dengan hotel dengan kelas berbeda, atau Candi Dasa di Karangasem yang walupun tidak ada hotel berkelas tapi yang kesana justru wisatawan yang memiliki tujuan khusus yaitu mencari ketenangan jauh dari hiruk pikuk.

Tanpa ada status sebagai destinasi wisata premium atau super premium, Bali sebenarnya juga sudah menerapkan wisata premium dengan mengembangkan beberapa kawasan untuk kalangan yang memiliki atau menginginkan pilihan yang lebih dari biasanya.

Dalam beberapa artikel juga disebutkan penerapan yang ingin dicapai dengan melihat Selandia Baru dalam menggaet wisatawan berkantong tebal yang berhasil dilakukan negara Kiwi tersebut.

Konsep R&R 

Dalam wisata mewah dimana pasarnya adalah individu dengan tingkat spending nya luar biasa tinggi untuk sekali berlibur terdapat konsep yaitu R&R atau Rest and Relaxation, akan tetapi dalam penjelasan mengenai penerapan wisata mewah ini, Selandia Baru menyebutnya dengan 'Perfection from Every Perspective" atau sebuah kesempurnaan dari setiap perspektif.

Selandia Baru menjadi salah satu destinasi Rest And Relaxation ini didunia dengan menawarkan tidak hanya layanan tapi juga destinasi yang terpisah dari segmen lainnya. Mereka tidak membangun bandara melainkan menyediakan Helikopter yang diparkir disekitar penginapan yang menawarkan privasi dan keeksklusifan yang tiada duanya. Mereka memberikan keleluasaan kepada wisatawan dalam mengisi liburan mereka.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline