Lihat ke Halaman Asli

Kecanduan Tak Terbendung

Diperbarui: 6 Desember 2017   00:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumentasi Pribadi

Kecanduan Tak Terbendung

"Awalnya hanya keinginan untuk mencoba. Namun seiring berjalannya waktu, aku merasakan kecanduan yang luar biasa, tak terbendung. Kenikmatannya yang mengantarku pada tingkat kecanduan tingkat tinggi itu." Untaian ini adalah kalimat yang layak untuk menggambarkan kecanduanku yang tak terbendung pada buku.

Menyusun skripsi adalah menyusun karya tulis ilmiah yang membutuhkan banyak referensi. Sebagai seorang mahasiswa pada sekolah tinggi di kepulauan, buku menjadi kendala utama. Gramedia, erlangga, dan penerbit sejenis nihil di kepulauan ini. Perpustakaan yang tak jelas arah jalannya dan minimnya ketersediaan buku-buku juga tak banyak membantu. Salah satu kendala inilah yang mengantar sebagian orang memilih menempah. Dengan kata lain, meminta jasa pembuat skripsi untuk membantu mengantarnya mendapatkan gelar Sarjana.

Saya hampir melewati jalan yang sama. Sore mendung waktu itu, saya mengirim pesan singkat kepada beberapa teman untuk memberitahu alamat dan nomor telepon genggam pembuat skripsi. Hasilnya, saya mendapat dua alamat dan dua nomor telepon genggam degan dua nama yang berbeda. Masing-masing kedua orang sudah tenar sebagai penjual jasa pembuatan skripsi, sebagaimana yang dijelaskan melalui pesan singkat oleh beberapa temanku.   

Keesokan harinya tepatnya pukul 08.00 Wib, saya bergegas menuju salah satu alamat itu. Saya tiba disana dan menceritakan keluhan. Setelah berdiskusi selama beberapa menit, saya memutuskan untuk tidak menjalin kerjasama karena harga yang lumayan mahal. Sorenya, saya mengirim pesan singkat kepada pembuat skripsi yang satunya, namun hasilnya juga sama. Tidak ada kecocokan harga.

Semalaman saya berpikir. Apa kata dunia? Teman-teman saya akan selangkah maju dari pada saya. Kapan akhirnya saya akan menyandang gelar sarjana itu. Lalu, saya berpikir untuk mencoba membuatnya sendiri. Tetapi, untuk membeli buku saya akan menghabiskan uang yang mungkin hampir sama dengan harga yang ditawarkan kedua pembuat skripsi itu. Saya harus menuju kota Medan untuk membeli buku di berbagai toko buku yang ada di sana. Saya akan menghabiskan uang untuk biaya perjalanan.

Sewajarnya jalan mudahnya adalah tempah saja. Tetapi entah mengapa saya kemudian memilih menerima tantangan itu. Saya memilih membuatnya sendiri. Beberapa waktu kemudian, saya berangkat dan menuju kota medan hingga mendapat sekardus buku yang memiliki keterkaitan teori dangan judul yang telah saya ajukan kepada pihak perguruan tinggi. 

Sepulang dari kota Medan, saya memulai pertualangan dengan buku-buku yang telah saya beli. Saya mencoba membaca sedikit demi sedikit. Kejenuhan sebentar hinggap. Lalu, saya menutup buku itu kembali. Lau, membuka dan membacanya kembali. Semakin lama membaca lembaran-lembaran itu, saya mendapatkan satu per satu teori pendukung judul skripsi. Akhirnya niat saya semakin meninggi untuk membaca buku-buku yang telah saya beli itu. Intinya saya lumayan mendapat banyak bekal untuk menyusun skripsi. 

Ternyata, buku memberiku bekal ilmu. Hal itu yang menjadi catatan utama dalam pertualangan saya dengan buku. Dengan bekal ilmu yang sudah saya dapatkan dari buku, saya memulai penulisan skripsi hingga menyelesaiakannya dengan baik dan memperoleh gelar sarjana.

Meskipun saya telah didahului beberapa teman, tetapi saya mendapatkan nilai lebih dari ketertinggalan itu. Saya merasa bahagia karena tantangan yang dihadapkan bisa terlewati tanpa mengharapkan bantuan para penempah itu. Seandainya, teman-teman memilih jalan yang saya tempuh, kemungkinan mereka akan mendapatkan keuntungan lebih seperti yang saya rasakan. Tetapi kendala buku hanya merupakan salah satu dari kendala-kendala seseorang memilih membuat skripsi dengan menggunakan jasa pembuat skripsi. Beberapa kendala lain, seperti kelemahan teman-teman dalam mengoperasikan komputer atau tidak adanya fasilitas komputer/laptop sehingga saya tidak bisa semudahnya membandingkan saya dengan teman-teman atau dengan cara lain menganggap mereka ceroboh. Tidak, tidak segampang itu.

Berawal dari penyusunan skripsi itu, ketertarikan saya pada buku seperti candu yang tak mudah terpisahkan. Bagi saya, buku memberiku cakrawala baru, informasi, pengatahuan, dan kesenangan. Soal kegunaan dari apa yang saya baca terletak pada diri saya sendiri untuk memilah-milah mana yang layak atau bermanfaat untuk digunakan dalam kehidupan ini. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline