Lihat ke Halaman Asli

Afif Auliya Nurani

TERVERIFIKASI

Pengajar

Cerpen | Aku, Kepompong, dan Seribu Patahan Hati

Diperbarui: 28 April 2018   00:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Steve Greer Photography

Malam begitu terasa dingin di Desa Papring, sebuah desa terpencil di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Bagaimana tidak? Desa ini masih sangat asri dan terletak di kaki pegunungan. Jalannya menanjak dan masih berupa bebatuan, belum diaspal. Lampu-lampu jalan pun masih digerakkan oleh pembangkit listrik tenaga langit malam.

Beruntung saat itu bulan sedang percaya diri untuk memperlihatkan siapa dirinya. Sehingga aku tidak terlalu takut menyusuri jalan setapak itu sendirian. Jalan menuju sebuah saung kecil nan reot di pinggir sawah milik Bapak.

Aku sangat menyukai duduk manis di saung itu. Sama seperti aku menyukai desa ini. Jauh dari kebisingan kota, kepulan polusi udara, bau tumpukkan sampah hingga bau mulut para peng-ghibah, juga jauh dari seseorang yang telah mematahkan hatiku... Ah, dia lagi.

Kenangan tentangnya pun mulai berkelebat di depan mataku. Tentang bagaimana aku mengenal dia hingga tidak ingin mengenalnya lagi. Baiklah, mungkin sedikit bercerita kepadamu akan membuat suasana hatiku membaik.

Dia ---yang ingin kulupakan namanya adalah sahabatku (dulu). Bukan mantan. Karena kami memang tidak pernah berpacaran. Tapi di mata orang-orang, kami adalah pasangan yang kompak dan serasi. Mungkin karena kedekatan kami sudah berjalan cukup lama, 5 tahun lebih. 

Dan benarlah kata pepatah, bahwa tidak ada yang murni persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Entah sejak kapan dadaku bergemuruh saat aku melihatnya. Kemudian ditambah perasaan hangat yang menjalar saat melihatnya tertawa. Semua terjadi begitu saja.

Bersamanya, aku merasa senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang karena dia ada di dekatku, sedih karena aku harus menelan kenyataan bulat bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Bahkan tidak akan pernah.

Bagaimana aku bisa tahu? Oh, tentu saja! Setiap bersamaku, dia tidak pernah absen untuk berceloteh tentang pujaan hatinya. Anis namanya.

Anis yang cantik, senyumnya seperti bulan sabit, Anis yang cerdas, bisa diajak diskusi ini-itu, Anis yang berbeda dari seluruh wanita di dunia, dan Anis yang blablabla hingga sedikit demi sedikit hatiku retak setiap mendengar namanya disebut. Dia terlalu asyik berbicara tentang Anis, hingga lupa bahwa lawan bicaranya bukan Tuhan, melainkan sahabatnya yang sedang berjuang menekan perasaan.

Hingga suatu hari, dia bercanda seperti ini:

"Kamu tahu, San, kenapa aku suka sahabatan sama kamu?" tanyanya dengan mimik yang serius. Hampir saja aku GR untuk menerka-nerka jawabannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline