Lihat ke halaman asli

Ricky Yacobi, Gol Terakhir Sang Legenda

Diperbarui: 21 November 2020   21:38

Alm. Ricky Yacob (Sumber foto: IDN Times/Herka Yanis)

Innalillahi wa innailaihi rojiun. 

Pagi tadi saya mendapat kabar duka, legenda Timnas Indonesia Ricky Yacobi telah berpulang ke Rahmatullah. 

Almarhum meninggal di usia 57 tahun di RS TNI AL Mintoharjo, Jakarta, setelah terkena serangan jantung dalam pertandingan sepakbola di Senayan. 

Ricky Yacob adalah striker dan kapten idola masa kecil saya dan menurut saya dia merupakan striker terbaik Timnas yang tak tergantikan hingga saat ini. 

Karir sepakbola pemain kelahiran Medan ini dimulai ketika menjadi juara Piala Suratin bersama PSMS Medan Yunior, hingga kemudian bergabung dengan klub Arseto Solo yang bermain di Liga Utama (Galatama) yang kemudian membawanya ke Timnas Indonesia. 

Prestasi terbaiknya di Timnas Indonesia adalah membawa Indonesia meraih medali emas untuk pertama kalinya dalam ajang Sea Games Jakarta pada tahun 1987, setelah sebelumnya membawa Timnas Indonesia melaju hingga Babak Semi Final di Asian Games Seoul pada tahun 1986. Dia juga merupakan pemain Indonesia pertama yang bermain di Liga Jepang pada tahun 1988, yaitu di Matsushita FC yang sekarang bernama Gamba Osaka. 

Hal yang membuat saya mengidolakan dia selain karena prestasinya adalah juga karakter dan gaya bermainnya di lapangan. Ricky Yacob merupakan seorang kapten dan striker yang memiliki kecepatan, positioning dan naluri mencetak gol di atas rata-rata pemain di zamannya. 

Sebagai striker murni, dia lebih banyak menunggu di dekat area kotak penalti dan langsung tancap gas begitu menerima operan bola. Gaya bermainnya itu selalu saya tiru ketika bermain bola di posisi striker. 

Ricky Yacob juga memiliki kebiasaan yang unik yang membedakannya dengan pemain sepakbola pada umumnya, yaitu menggunakan wristband, menurunkan kaos kaki, dan tanpa menggunakan pelindung tulang kering. Kebiasaan yang berbahaya bagi pemain bola sebenarnya, apalagi dengan posisi penyerang sepertinya. Anehnya, dia jarang mengalami cedera tulang kering.   

Salah satu penampilannya yang paling berkesan buat saya adalah ketika dia mencetak dua gol dalam pertandingan ujicoba antara Timnas Indonesia melawan PSV Eindhoven Belanda yang ketika itu diperkuat oleh legenda Timnas Belanda Ruud Gullit. 

Setelah pensiun sebagai pemain sepakbola, dia tidak meninggalkan sepakbola, namun mendirikan sekolah sepakbola untuk anak-anak di Senayan. Ternyata akhir hidupnya pun di lapangan sepakbola, dia terjatuh setelah mencetak gol. 

Halaman Selanjutnya

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline