Lihat ke Halaman Asli

Michael Aditya

Healer, Hypnotherapist, Neo NLP Practitioner, IT People

Keterpisahan

Diperbarui: 19 April 2022   13:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Obat adalah perlambang keterpisahan, dokpri

19 Maret 2021

Pernahkah kita mengalami sebuah keadaan di dalam suatu kelompok, baik itu di lingkungan rumah, di tempat kerja atau mungkin di sekolah dan di tempat kuliah. Ada satu individu yang kita rasa sikapnya "Nyeleneh"? Pasti ada kan? Puji Tuhan kalau ternyata nggak ada.

Nah, bagaimana sikap kita terhadap mereka yang kita anggap "berbeda" tersebut? Benci? Marah? Merasa kasihan? Atau malah kita cuek aja? Contoh sederhananya di lingkungan tempat tinggal kita, dimana semua warganya memiliki kesepakatan bersama mengenai sesuatu, semuanya benar-benar membuat satu suara yang bulat, sampai tiba akhirnya datang satu individu yang berkata berbeda dan bersikap resisten terhadap keputusan yang dibuat bersama. Pasti ada yang tidak suka, ada yang marah, ada yang benci bahkan mungkin ada yang tidak peduli.

Saya pernah mengalaminya, dan itu mempengaruhi sikap, perilaku dan perasaan saya terhadap individu tersebut. Apakah ini salah? Tentu tidak, karena manusia sebagai raga diciptakan untuk bertahan hidup by default, harus survived. Tapi apakah saya adalah raga? Tentu saja bukan. Saya adalah Ruh yang di manifestasikan di dalam raga ini. Apakah kita mau dikontrol oleh raga? Yang ternyata bukan diri kita yang sejati.

Kemudian bagaimana dengan jiwa saya sebagai warga yang terlanggar haknya karena ada yang melanggar kesepakatan bersama itu? Ya pastinya jiwa saya yang sebagai warga itu juga akan terusik, memicu peningkatan kecepatan detak jantung saya setiap kali bertemu dengan individu tersebut. Bahkan dengar namanya disebut atau dengar individu itu berbicara saja jiwa saya sudah bergejolak.

Kemudian apa yang harus saya dilakukan? Masih ingat ya ketika raga dan jiwa kita sedang mengalami sakit? Saya yakin anda masih ingat.

Yaitu dengan menyatakan keterpisahan kita terhadap rasa sakit itu, nyatakan bahwa saya bukan rasa sakit itu.

Tapi bagaimana dengan orang yang "kita benci" tersebut, saya pernah mencoba melakukan cara yang sama dengan "rasa sakit" seperti yang saya sebutkan di atas, hasilnya... TAMBAH NEMEN, jadi ketika saya lihat individu tersebut lewat di depan mata saya, saya malah ingin marah 10 kali lipat dari biasanya... Lho kok gitu? Kok tidak bisa kita perlakukan sama dengan penyakit atau rasa sakit? Bukannya mereka sejenis ya?

Tapi saya pahami dengan cara yang sulit dan harus mengalaminya sendiri. Saya baca tulisan Pak Bagus Herwindro, bahwa kita manusia dan segala ciptaan di dunia ini adalah satu kesatuan, sehingga ada keilahian di dalam setiap ciptaan-Nya. Dengan mengangguk-angguk (sama seperti yang anda lakukan sekarang ini). Saya memahami bahwa saya dan individu yang saya "benci" itu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, kita semua terikat, sehingga tidak mungkin saya "benci" diri saya sendiri kan?

Jadi apa yang saya lakukan? Ya saya nyatakan ketidak-terpisahan saya. "Saya adalah bagian dari dirinya dan dirinya adalah bagian dari saya" sambil saya lihat individu tersebut. Ya kalau "benci"nya agak banyak, boleh diucapkan sampai beberapa kali... yang muncul kemudian adalah rasa CINTA yang berasal dari dalam diri terhadap seluruh ciptaanNya. Rasa yang harus dialami sendiri untuk tahu rasanya itu seperti apa...

Mau mengalami rasa CINTA ini? (angguk-angguk kepala).




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline