Lihat ke Halaman Asli

Achmad Fahad

Seorang penulis lepas

Dilema Bandara Mangkrak di Pulau Jawa

Diperbarui: 16 Desember 2023   19:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pixabay

Pemerintahan Presiden Jokowi selama hampir dua periode ini lebih banyak berfokus pada pembangunan infrastruktur di berbagai daerah dan juga di berbagai bidang. Salah satu infrastruktur yang dibangun di masa pemerintahan Presiden Jokowi adalah bandara. Pemerintah melalui Kementrian PUPR telah membangun banyak bandara baru yang tersebar di Pulau Sumatra, Pulau Sulawesi, serta di Banggai Kepulauan, hingga ke Papua Barat.

Bahkan pembangunan bandara baru juga terjadi di Pulau Jawa yang notabena telah dimanjakan dengan berbagai kemudahan transportasi. Mulai dari jalur kereta api yang membentang di bagian utara juga di selatan Pulau Jawa, tersambungnya jalan tol Trans Jawa yang menghubungkan ujung barat Pulau Jawa hingga ke Surabaya dan masih akan dilanjutkan pembangunannya sampai ke Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa.

Kemudahan transportasi yang sudah ada masih ditunjang lagi dengan adanya lima bandara besar yang melayani rute domestik maupun internasional. Kelima bandara besar ini merupakan bandara tersibuk di Pulau Jawa dan pastinya sangat menguntungkan bagi pengelola bandara terutama PT Angkasa Pura. 

Namun pemerintah seakan masih kurang puas dengan berbagai transportasi yang sudah ada di Pulau Jawa. Sehingga pemerintah kembali membangun 5 bandara di Pulau Jawa. Semua pembangunan bandara baru ini menggunakan dana dari APBN yang nilainya tidak sedikit.

Setelah pembangunan lima badara baru selesai dikerjakan dan kemudian diresmikan secara meriah oleh Presiden Jokowi. Barulah kelima bandara baru tersebut bisa dikatakan telah beroperasi secara resmi untuk melayani masyarakat yang ingin menggunakan moda transportasi udara. Akan tetapi, kenyataan yang ada di lapangan tidak seindah dari apa yang telah dibayangkan sebelumnya. 

Dengan adanya bandara baru ini diharapkan ekonomi akan semakin bertumbuh, perjalanan masyarakat juga akan semakin mudah, dan pada akhirnya wilayah tersebut akan semakin berkembang.

Akan tetapi, pada kenyataannya semuanya malah berbanding terbalik dengan harapan pemerintah membangun bandara baru. Kelima bandara baru tersebut ternyata minim atau bahkan nyaris tidak ada penumpang sama sekali. 

Demikian juga dengan maskapai penerbangan yang lebih memilih hengkan dari bandara baru tersebut karena tidak ingin mengalami kerugian yang lebih besar lagi ke depannya.

Dengan tidak adanya penumpang dan juga tidak tersedianya maskapai yang beroperasi, maka praktis kelima bandara baru yang telah selesai dibangun akhirnya menjadi bandara hantu. Dan ini akan menjadi beban bagi PT Angkasa Pura selaku operator bandara karena tidak adanya pemasukan serta ditambah dengan biaya operasional yang nilainya tidak sedikit setiap bulannya.

PT Angkasa Pura dalam waktu dekat harus mengambil sebuah pilihan yang sulit mengenai kelanjutan pengoperasian kelima bandara baru tersebut. Jika PT Angkasa Pura memilih untuk melanjutkan operasional bandara meskipun tanpa adanya pemasukan sama sekali, bisa dipastikan PT Angkasa Pura akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi. Dan jika pilihannya adalah menutup total kelima bandara baru tersebut, maka proyek infrastruktur yang telah dibangun oleh pemerintah bisa dibilang gagal dan akibatnya menimbulkan kerugian dari penggunaan dana APBN.

Lalu, apa penyebab banyaknya bandara mangkrak di Pulau Jawa?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline