Lihat ke Halaman Asli

Bayu

Sukma

Etika Al-Farabi sebagai Solusi Permasalahan Manusia Modern

Diperbarui: 9 Agustus 2022   13:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Shutterstock

Salah satu permasalahan di era modern ini adalah kecenderungan pola dan gaya hidup masyarakat yang semakin hedonisme. Gaya hidup hedonisme merupakan implikasi gaya hidup yang tinggi di tataran masyarakat saat ini sehingga gaya ini cenderung akan melupakan Tuhannya.

Kita bisa lihat contoh-contoh nyata dalam kehidupan saat ini, seperti banyak artis yang ingin mengoleksi barang-barang mewah, shoping dengan barang-barang yang branded, makan di tempat-tempat yang enak dan mahal, perawatan tubuh dengan operasi plastik supaya cantik dengan miliaran rupiah dan contoh-contoh lainnya.

Kalau meminjam istilah nya Benthem, bahwa gaya hidup hedonis adalah suatu dorongan seseorang untuk berprilaku dengan memegang prinsip kesenangan.

Kalau kita lihat ke dalam sisi definisinya menurut Henk ten Napel, bahwa hedonisme ini awalnya dari kata Yunani yaitu hedonismos yang akar katanya hedone yang artinya kesenangan.[1] Makanya menurutnya, paham ini sebenarnya ingin berusaha memaparkan bahwa tujuan dalam sebuah kehidupan di dunia ini adalah meningkatkan kuantitas kesenangan bukan kualitas.

Dilihat dari sisi historisnya hedonisme ini muncul di awal sejarah filsafat sekitaran tahun 433 SM. Hedonisme memang menjadi jawaban dari permasalahan, apa yang menjadi tujuan akhir bagi manusia? Dan jawaban yang muncul waktu itu adalah hedonisme untuk mencapai sebuah kebahagiaan dan kesenangan.[2]

Pandangan tentang tujuan manusia yang ingin mencapai kesenangan dan kebahagiaan dijelaskan oleh seorang filsuf Yunani juga yaitu Epikuros. Menurut Epikuros tindakan manusia untuk mencari kesenangan merupakan naluriah kodrat manusia itu sendiri. 

Namun ternyata, menurut Franz Magnis Suseno, pemikiran Epikuros ini tidak hanya mencakup kesenangan jasadi saja tapi juga kesenangan rohani seperti terbebasnya jiwa  manusia dari rasa resah dan gelisah.[3]

Kemudian Franz Magnis juga mengomentari bahwa hedonisme saat ini sudah mengalami pergeseran makna dan pemahaman masyarakat saat ini yang lebih condong pada orientasi material.[4] Inilah yang kemudian kita bisa lihat di masyarakat saat ini. Sebagian besar orang berpandangan bahwa kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan dilihat dari sisi banyaknya material yang puncaknya mempunyai segalanya adalah puncak kebahagiaan.

Sehingga paham hedonisme ini menjadi sebuah cara pandang (worldview) hidup manusia di dunia ini. Seperti menurut Ahmad Mustafa dalam bukunya bahwa hedonisme ini sudah dianggap sebagai tujuan utama kesenangan dan kebahagiaan dalam hidup masyrakat kita sekarang.

[5] Artinya bahwa hedonisme ini lebih menitikberatkan kepada hal-hal yang bersifat jasadi daripada rohani dan hanya berupa kesenangan sementara yaitu kesenangan dunia.  

Ahmad Mustofa kemudian melanjutkan bahwa kesenangan pada dunia adalah bentuk cinta pada dunia yang secara berlebihan  merupakan bagian reduksi cinta pada Allah. Tuhan tidak memiliki tempat dalam kehidupan pemeluk agama akibat dari pemutlakan cinta pada harta dan tahta di dunia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline