Lihat ke Halaman Asli

12013Y

Fresh Graduate

Sate

Diperbarui: 7 November 2018   10:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Tengah malam perut  bernyanyi minta diisi, kupaksakan diri bangkit dari kasur, mengeluarkan motor, dan memacunya santai ke area luar kampus. Malam dingin begini paling enak makan sate. Karena sudah larut warung-warung tentu sudah banyak yang tutup. Tak kunjung berjumpa dengan warung sate, kualihkan perhatian pada gerobak-gerobak pinggir jalan. 

Jauh di pojokan baru ketemukan gerobak sate, langsung kupesan satu bungkus. Sambil menunggu kuamati pedagangnya yang sibuk mengipasi arang dengan kipas anyaman di tangan kurusnya. 

Masih muda, mungkin seusia denganku bahkan lebih muda sepertinya, memakai kemeja putih yang sudah tidak pantas lagi disebut putih, celana jeans butut sampai dengkul, dan sepasang sandal jepit. 

Gerobaknya kecil dan tua sehingga hanya bisa memuat peralatan dan bahan jualan yang tidak banyak, belum lagi lokasi penjualan di pinggir jalan tanpa fasilitas penerangan yang cukup. Membuatku berpikir, jika dibandingkan dengan pedagang lain dengan lapak dan fasilitas lengkap, para konsumen tak terkecuali aku pasti akan lebih memilih warung lengkap, karena faktor kenyamanan, kebersihan, dan pertimbangan lainnya.

Sekali lagi, muncul rasa tidak adil dalam diri, siapapun pasti ingin memiliki fasilitas lengkap dalam berdagang, membuat konsumen senang dan nyaman tentu akan menjadi keuntungan tersendiri, mereka pasti ingin mendapatkan itu namun kita tidak memberi kesempatan mereka untuk meraihnya. 

Kita akan lebih senang, bergengsi, dan bangga jika membelanjakan uang di restoran, mall, kafe, dan warung mewah lainnya dibandingkan memilih pedagang gerobak dan lesehan. 

Seperti perusahaan-perusahaan itu, semuanya ingin pegawai yang berpengalaman, namun tidak satu pun dari mereka memberikan peluang para pelamar itu untuk mendapatkan pengalaman, lucu bukan?

Mungkin sesekali kita harus meninggalkan mereka di daerah gemerlap dan mengunjungi mereka di daerah gelap. Selain niat memenuhi kebutuhan, niatkan juga untuk membantu sesama, dengan begitu kita bisa membantu meningkatkan perekonomian mereka, bukan dengan memberikan uang belas kasihan, namun dengan membeli dagangan mereka.

"Mas... ini satenya" pedagang sate itu membuyarkan pikiranku, kuberikan uang pecahan Rp. 10.000,00, "terima kasih" ia menerimanya dengan sopan. 

Kuhidupkan mesin motor bersiap pulang, kutengok sekali lagi pedagang sate itu, ia duduk kembali menyendiri menunggu konsumen datang. 

Menunggu dan berharap, karena di saat inilah, saat larut malam, saat warung-warung mewah nan lengkap menghilang para konsumen menyadari keberadaannya, sama seperti yang kualami malam ini.

Tak jauh beda laksana cahaya kecil ribuan bintang yang gemerlap, akan terlihat jelas saat rembulan terlelap.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline