Bahasa

Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Membunuh Kreativitas

12 Juni 2018   20:01 Diperbarui: 12 Juni 2018   20:16 193 0 0

Apa YANG menjadi FOkus UTaMA Mu KetiKA MEMbaca SebuAH TuLiSan?

APA engkau meMAKNAi nya? engkau meng KRITIKNYA? ATAU engkau membuat REKonstruksi karya? ATAU engkau hanya MENCARI cari kesalah an penu lisan dan TATA bahasa NYA saja?

PENCAPAIAN tertinggi sebuah pemahaman itu apa? apa hanya mengutak ngatik tata bah asa nya sa ja?  tanpa meMAKNAI pemahaman dalam tulisan ITU?

YA! INTERPRETASI!

interpretasi adalah sebuah mahakarya penulis an. untuk memahami teks, sampai sampai filsuf Derrida harus membuat teori DEKONSTRUKSI! Bahkan hermenutika menjadi kajian penting, karena mahalnya sebuah interpretasi!

PENGAJARAN sastra di sekolah telah membunuh kreativitas dan daya tafsir manusia! Semua teknik memahami dan menafsir TuLisan diatur atur menurut kemauan KURI KULU M. TULISAN hanya dikatakan layak ketika tulisan itu dibongkar bongkar struktur tata bahasa dan teknik penulisan, jika engkau membuat DEKONSTRUKSI sastra dalam kertas ulangan, maka guru GURU MU AKAn memberi nilai di bawah STANDAR.

ketika ujian, kamu diberi SOAL SOAL, DAN kutipan tulisan. BANYAK PERTANYAAN DALAM soal yang meminta engkau men jawab ARTI DAN MAKNA TULISAN ITU

contoh soal nya, apa makna puisi WS Rendra berikut? apa maksud dari metafora berikut? apa arti dari sajak Wiji Thukul tersebut?

LALU ENGKAU MENJAWAB soal menurut interpretasi mu, misalnya engkau memilih opsi B. DAN TERNYATA INTERPRETASI MU SALAH. karena menurut INTERPRETASI GURU MU, jawaban yang bener itu opsi C.

ARTINYA, KREATIVITAS MU DIBUNUH! hak mu sebagai manusia sastra tidak ada. Engkau dianggap salah, padahal INTERPRETASI ADALAH KEBEBASAN HAKIKAT.

LALU karena kreativitas mu dibunuh, maka fokus mu bukan interpretasi, tapi tata bahasa dan hukum bahasa yang klise itu. DALAM MELIHAT TULISAN, makna engkau singkirkan, rekonstruksi engkau buang, dan interpretasi engkau tidak anggap penting. PeNeMpAtAn HuruF KaPiTaL dan pemisahan ka ta a wal menjadi PrioRitas insting mu.

Apa beda nya engkau dengan fitur koreksi kata otomatis di komputer dan hape? Apa engkau sama harga nya dengan mesin?

Fokus utama mu dalam membaca tulisan ini pun harus dipertanyakan MaKa denGan SenGaja, tulisan ini TIdak MenGikuti hukum tata bahasa. Agar peSan Ini dapat engkau PaHaMi secara utuh.

Mbah Sutardji Calzoum pernah bilang bahwa kata harus dibebaskan dari makna, agar kreativitas ada. Nah, bagaimana bisa membebaskan kata dari penjajahan makna, tanpa kita bisa memaknai "makna" terlebih dulu. Jangan dulu ingin membebaskan kata dari penjajahan makna, jika bagi kita tata bahasa gramatik yang paling penting.

Semoga para netizen memaklumi.

Sekian dari saya, terimagaji