Mohon tunggu...
Amos Ursia
Amos Ursia Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Foodie Artikel Utama

Rumah Makan Abah Karsu dan Industri Makanan

5 Juni 2018   10:44 Diperbarui: 6 Juni 2018   01:41 3638
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: Dokumentasi Pribadi

Kalau kamu makan di resto cepat saji, kamu membayar lalu menunggu beberapa menit, kemudian kamu bisa menyantap makanan yang kamu pesan.

Bagaimana hidup sapi, ayam, dan ikan yang kamu makan? Bagaimana proses pengolahan daging? Bagaimana proses pembekuan ayam, sapi, dan ikan? Bagaimana pertumbuhan kentang yang kamu makan? Bagaimana kesehatan tomat dan cabai dalam saus yang kamu makan? Bagaimana proses memasak makanan mu? Bagaimana dengan bahan bakar yang dipakai untuk memasak, apakah ramah lingkungan? 

Kamu tidak akan tahu apa apa, yang kamu tahu hanya harga makanan dan senyuman kasir yang lumayan tulus (tapi prosedur operasional).

Itulah realitas sehari hari, kita nyaman dengan hal instan, tanpa mengkritisi kenyamanan hal instan itu.

Di Cijulang, Pangandaran, ada sebuah rumah makan di tengah sawah. Orang orang menyebut nya "Rumah Makan Sari Asih Abah Karsu". Rumah makan ini menyajikan makanan laut sebagai menu utama, seperti udang, ikan, kerang, dan cumi-cumi. Yang menarik, rumah makan ini berada di tengah sawah dan tambak-tambak ikan, sekitar lima sampai enam tambak. 

Tempat makan ini dibuat diatas tambak air payau dan menggunakan saung saung tradisonal, ditambah angin laut pantai selatan, suasana alam sangat terasa. Ditambah kelapa muda yang langsung diambil dari pohon, mantab! 

Saya tertarik dengan pengelolaan makanan dengan cara tradisional di rumah makan ini. Kami memesan satu kilogram udang, satu kilogram ikan bandeng, dan tiga porsi sayur hijau. Karyawan rumah makan ini langsung mengambil jaring, lalu pergi ke tambak untuk mengambil bahan bahan yang diperlukan. 

Karyawan lain pergi ke kebun belakang dapur untuk panen sayur, bumbu, dan rempah yang diperlukan. Tambak-tambak ini dialiri air laut, karena berjarak beberapa meter saja dari tepi pantai. Ikan, udang, cumi, dan kerang dalam tambak ini dipelihara secara organik, dan melalui proses tradisional yang alamiah, sehingga kita bisa melihat pengelolaan hewan yang akan kita makan dengan sangat detail. 

Saya mengikuti proses mereka menjaring ikan dan udang, sampai proses mereka membersihkan ikan dan udang hasil tangkapan nya. Lalu mereka memakai kayu bakar untuk memasak, di samping dapur ada barak penyimpanan kayu (untuk bahan bakar) yang mereka tebang dari kebun mereka sendiri. 

Di belakang dapur juga ditanam pohon cabai, pakis, genjer, kangkung, dan bahan masak lain yang ditanam secara organik. Sehingga semua proses industri makanan ini diproses dari bibit sampai disajikan kepada pembeli, sebuah hal yang jarang ditemui sehari hari di kota kota besar. 

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Saya kagum dengan pengelolaan yang tradisional dan alamiah ini, karena melihat proses dari awal sampai akhir. Saya bukan hanya sekedar makan dan membayar, tapi saya mengerti bahwa industri makanan yang melalui proses alamiah lebih bermutu ketimbang proses industri makanan "modern".

Proses alamiah makanan sulit kita temukan, dan proses alamiah ini adalah pola hidup manusia yang ribuan tahun berlangsung. Jangan terlalu nyaman dengan teknologi dan makanan yang modern, kita tidak akan bisa menghargai proses alam ketika memakan makanan cepat saji. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun