Mohon tunggu...
Suparmin
Suparmin Mohon Tunggu... Seorang Tenaga Pendidik Tingkat SMA di Kabupaten Gowa, Sulsel

saya seorang guru yang menganggap bahwa kebaikan mesti selalu ditebarkan kepada sesama.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

PPDB Zonasi: Sekolahku Dekat Rumahku

20 Juni 2019   08:33 Diperbarui: 20 Juni 2019   08:51 0 1 0 Mohon Tunggu...
PPDB Zonasi: Sekolahku Dekat Rumahku
Dok: Info Grafis Kemendikbud

Suparmin[1]

Sudah tahun ketiga sistem Zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) khususnya tingkat SMA dilaksanakan. Tahun ini, penyempurnaan semakin dilakukan oleh pemerintah. Hasil evaluasi tahun lalu, diperbaiki pada penerimaan tahun pelajaran 2019/2020. 

Prinsip yang dikedepankan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah nondiskriminatif, objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan untuk mendorong peningkatan akses layanan pendidikan. 

Misalnya, bagi calon peserta didik yang masuk kategori kurang mampu, dibuktikan dengan keanggotaan dalam Program Keluarga Harapan (PKH). Kuota khusus untuk mereka disiapkan sebanyak 20% yang tergabung dalam 90% kuota untuk jalur zonasi.

 Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Dalam Negeri menulis Surat Edaran bersama dengan nomor 1 Tahun 2019 Nomor 420/2973/SJ tentang Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). 

Melalui surat edaran tersebut, kedua menteri menuliskan 7 poin aturan garis besar yang akan dijabarkan oleh pemerintah daerah baik tingkat Provinsi untuk Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan serta tingkat kabupaten untuk pendidikan jenjang Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar,  dan Sekolah Menengah Pertama.

 Berptokan pada surat edaran tersebut, pemerintah daerah, melalui dinas pendidikan masing-masing menyusun petunjuk teknis penerimaan peserta didik baru. Hal yang paling utama adalah kuota terbanyak untuk jalur zonasi, yaitu 90 persen. 

Dengan jalur ini, kita tidak akan menemukan lagi istilah sekolah vaforit dan sekolah nonvaforit. Kita tidak akan menemukan lagi sekolah yang menerima pendaftaran dengan jumlah yang membludak, sementara sekolah tertentu kewalahan dalam mencari calon peserta didik baru. 

Dengan sistem ini, seluruh calon peserta didik yang berada di radius terdekat dengan sekolah, dibuktikan dengan keberadaan kartu keluarga yang sah dari catatan sipil dan telah berdomisili minimal 1 tahun di daerah tersebut, secara otomatis memiliki peluang terbesar untuk masuk ke sekolah terdekat dengan tempat tinggalnya. Sistem zonasi ini layaknya seperti lingkaran obat nyamuk. 

Calon peserta didik terdekat dengan titik koordinat sekolah yang memiliki peluang paling besar. Lingkaran tersebut semakin berputar ke luar (semakin jauh) hingga kuota yang telah ditentukan sebelumnya terpenuhi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x