Mohon tunggu...
M Ammar Mahardika
M Ammar Mahardika Mohon Tunggu... Service Engineer PT ALTRAK 1978

Lahir di Jakarta 16 Agustus 1996, suka menulis. Akhir-akhir ini membuat prosa seperti puisi atau cerpen. Salam kenal! :)

Selanjutnya

Tutup

Tekno

Mewujudkan Kota Pintar yang Mendunia Disertai Kearifan Lokal dengan EcoStruxture dari Schneider Electric [ARTIKEL FITUR]

6 Agustus 2017   18:45 Diperbarui: 16 Agustus 2017   08:08 583 0 0 Mohon Tunggu...

Urbanisasi yang cepat dan masif menjadi tantangan bagi perkotaan. Namun, walaupun sekarang kota-kota maju di seluruh dunia menghadapi permasalahan ini---seiring kemajuan teknologi---belum ada solusi untuk menjawab dari aspek kearifan lokalnya. Schneider Electric dengan EcoStruxture-nya hadir untuk memaksimalkan manfaat dari Internet of Things(IoT) dengan mengembangkan infrastuktur energi di perkotaan melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan rencana pembangunan berkelanjutan di masing-masing kota.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), diprediksi pada tahun 2050 nanti dua per tiga populasi dunia akan tinggal di daerah perkotaan; tahun 2030 nanti 41 kota akan memiliki populasi paling sedikit 10 juta orang1. Laju urbanisasi yang cepat ini memunculkan tuntutan yang sangat besar di bidang perumahan, infrastruktur, transportasi, layanan kesehatan, dsb.

Tommy Leong, Presiden Schneider Electric at East Asia and Japan, menambahkan, "Yang terpenting, tantangan ini harus ditangani secara lokal, karena tidak ada satu pun pendekatan baku yang dapat memecahkan dilema infrastruktur yang dihadapi oleh para perencana kota di seluruh dunia. Misalnya di negara maju, terutama di Barat, prioritas utama adalah menyesuaikan infrastruktur yang sudah ada -- meski mulai usang -- untuk mengikuti kebutuhan penduduknya di masa depan. Pemerintah setempat mulai mengintegrasikan teknologi maju untuk membuat kota-kota yang lebih mapan menjadi 'lebih cerdas,' meningkatkan konektivitas antara manusia maupun perangkat elektronik untuk menghasilkan inovasi, pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Dengan berbagai perkembangan yang terjadi, diperkirakan ada lebih dari 26 kota global yang diharapkan menjadi kota pintar pada tahun 20252."

Beberapa kota di dunia sudah mulai membangun kesadaran ini dari nol, contohnya kota Songdu di Korea Selatan. Kota ini beroperasi sepenuhnya dengan tenaga surya dan angin. Bersamaan dengan itu, energi di kota ini juga dihasilkan dari limbah manusia yang diproses di pabrik co-generation. Bangunannya memunyai kontrol iklim otomatis dan sensor listrik sehingga pergerakan penduduk dapat diketahui dan direspon sesuai kebutuhan.

Langkah lebih besar lagi dilakukan oleh Singapura. Mereka menjadi negara pertama yang mengusung konsep "smart nation" yang didukung oleh big data dan teknologi analitik serta sensor nirkabel dan koneksi tercanggih. Sebagai langkah awal, Singapura mengaktifkan sekitar 1.000 sensor di tahun 2015 untuk melacak segala hal---mulai dari kualitas udara, debit air hingga keselamatan penduduk3.

Sudut Pandang Lokal Menjadi Hal Vital

Penyampaian visi dan misi dari rencana pembangunan teknologi sesuai kearifan lokal sungguh penting untuk menyatukan pemahaman masyarakat sekitar. Hal ini kadang menimbulkan gangguan sehingga butuh pendidikan publik. Prioritas visi, investasi dan kebijakan untuk setiap kota harus mencerminkan konteks, budaya dan ekonomi lokal yang spesifik. Ada contoh di India di mana penerapan teknologi mutakhir tanpa analisis mendalam menimbulkan masalah baru, yaitu harian The India Express melaporkan tentang kritik  terhadap pemerintah Lutyens Delhi dari aktivis lingkungan setempat karena proyek kota cerdas justru dilakukan di wilayah-wilayah yang sudah berkembang; meningkatkan ketidakseteraan4.

Kolaborasi Lokal untuk Mengatasi Kerumitan

Salah satu tantangan dalam proyek kota cerdas adalah menyamakan persepsi semua pemangku kepentingan. Dinamika birokrasi yang tinggi di suatu perkotaan acapkali mengubah dan menyesuaikan banyak sistem atau cara kerja yang sudah mapan. Hal ini dapat diatasi dengan mengajak pemerintah untuk menyemarakkan proyek yang lebih besar, serta kolaborasi yang lebih banyak antara pihak swasta dengan pemerintah. Selain itu, keterampilan dan wawasan ilmuwan lokal dari universitas serta pusat penelitian setempat bisa dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan warga. Contohnya, Singapura telah mengembangkan The Renewable Energy Integration Demonstrator-Singapore(REIDS), yang merupakan microgrid pertama di Asia Tenggara. Proyek kolaborasi antara pemerintah Singapura dengan Economic Development Board(EDB) dan National Environment Agency (NEA) mendorong industri, lembaga penelitian dan pemerintah untuk menciptakan solusi yang mumpuni.

Inovasi untuk Mengubah Local Energy Value Chain (Rantai Nilai Energi Lokal)

Masa yang akan mendatang---dan telah dimulai di beberapa kota di Asia---kita akan melihat inovasi yang mengubah energy value chain, dari pembangkitan, transmisi, distribusi hingga konsumsi dan permintaan energi. Schneider Electric menawarkan EcoStruxture yang memaksimalkan manfaat dari IoT dan bersifat open-platform dan interoperable. EcoStruxture menyediakan kesempatan bagi kota-kota untuk membangun infrastruktur energinya sesuai dengan rencana pembangunan berkelanjutannya masing-masing. Dengan integrasi fasilitas, aplikasi serta sistemnya akan tercipta analisis yang bersifat prediktif. Jadi, keputusan yang cepat dan optimasi investasi jangka panjang mudah dicapai. Hal ini menurunkan total biaya kepemilikan, menghemat biaya dari efisiensi energi, mengurangi biaya staf, memerbaiki daya tahan dan memastikan keberlanjutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN