Mohon tunggu...
Amirsyah Oke
Amirsyah Oke Mohon Tunggu... Hobi Nulis

Pemerhati Keuangan negara. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Bertemu Pendatang Baru di Jakarta

11 Juni 2019   12:31 Diperbarui: 12 Juni 2019   21:03 0 7 1 Mohon Tunggu...
Bertemu Pendatang Baru di Jakarta
Ilustrasi pemudik yang kembali ke Jakarta bersama sanak saudaranya (Dok. megapolitan.kompas.com)

Setelah libur Lebaran, biasanya arus urbanisasi ke kota mengikuti para pemudik yang kembali ke tempat tinggalnya atau tempat domisili sesuai pekerjaannya. Dan kota yang paling menarik untuk didatangi adalah ibu kota Jakarta. Apalagi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah menyatakan secara terbuka bahwa tidak akan melakukan operasi yustisi terhadap mereka yang berniat datang dan tinggal di Jakarta.  

Akan tetapi, saya tidak mengira jika langsung bertemu dengan salah satu pendatang tersebut. Tepatnya di hari Senin kemarin saat saya menggunakan aplikasi ojek online untuk pergi ke suatu tempat. Tidak berapa lama motor ojek datang dan saya pun langsung naik.

"Nanti tolong kasih tahu jalannya ya, Pak!" Pengojek membuka pembicaraan sebelum menyalakan motornya. "Lho, Bapak gak tahu daerah sini toh? Kan ada google map!" Tanya saya keheranan. "Soalnya saya orang baru di sini Pak. Baru saja datang kemarin" Ujarnya.

Saya langsung "ngeh" bahwa pengojek tersebut adalah pendatang baru alias kaum urban di Jakarta. Tapi kok bisa langsung jadi ojek online? Apa secepat itu bisa jadi ojek online di daerah yang baru? Saya penasaran dan kembali melihat aplikasi ojek di ponsel.

Ternyata nomor kendaraan bermotor yang tertera di aplikasi berasal dari daerah yang cukup jauh dari Jakarta, tepatnya dari Jawa Tengah. Bisa jadi, pengojek tersebut memang sudah bekerja sebagai ojek online di daerah asalnya. Dan kini ia mencoba menjadi pengojek online di kota Jakarta. Saya juga kurang paham, apakah pengojek online dari daerah di Jawa Tengah bisa menjadi pengojek online di Jakarta dengan aplikasi yang sama.

Ilustrasi urbanisasi (sumber: mediamadura.com)
Ilustrasi urbanisasi (sumber: mediamadura.com)
Jadilah sepanjang perjalanan yang kebetulan melalui jalanan berbelok-belok, saya harus memberikan arahan belok kanan, belok kiri, lurus dan seterusnya. 

Rupanya karena orang baru, pengojek ini kurang memahami situasi dan kondisi di jalanan Jakarta. Juga belum tahu dengan perilaku pengemudi lainnya yang berbeda dengan daerah asalnya.

Ada dua kali kejadian yang hampir menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Si pengemudi tampak terkaget-kaget dengan perilaku pengendara di Jakarta. Akhirnya yang bersangkutan mengemudi lebih pelan dibandingkan sebelumnya. Untunglah saya tidak buru-buru untuk sampai sehingga tidak masalah dengan laju kendaraan yang relatif lambat dari biasanya. Yang penting bisa sampai di tujuan dengan selamat. 

Pendatang baru di Jakarta yang saya temui, kebetulan berprofesi sebagai ojek online sehingga bisa langsung aktif mencari nafkah di Jakarta. Tinggal bagaimana kesabaran dan keuletannya dalam mencari nafkah. Juga yang bersangkutan harus menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi terkait lalu lintas dan perilaku pengendara lainnya di Jakarta.

Para ahli telah banyak melakukan kajian terhadap urbanisasi dan menyatakan banyak efek negatifnya dibandingkan yang positif. Di satu sisi, akan menjadi beban bagi kota yang didatangi, apalagi jika tidak memiliki keahlian atau kompetensi dan termasuk tidak siap untuk beradaptasi dengan budaya dan peraturan setempat. Tapi di sisi lain, urbanisasi akan relatif meringankan beban kota yang ditinggalkan.

Tinggal bagaimana kesiapan pemerintah kota yang didatangi dalam menangani pertambahan penduduk dalam jumlah yang besar. Bila siap, maka tidak akan menjadi permasalahan. Bila tidak siap, maka akan memberi banyak masalah yang membuat kehidupan kota secara umum menjadi tidak aman dan tidak nyaman.

VIDEO PILIHAN